Surga di Tanah Rencong

Abang Nur, yang sehari-harinya bekerja sebagai sopir labi-labi, sejenis angkutan umum yang pintu penumpangmnya ada disisi belakang, di kota Takengon yang kemudian kami daulat menjadi Guide kami selama di Takengon dengan bangga mengatakan bahwa Tanah Gayo, khususnya Takengon, adalah Surga di Bumi Rencong. Tak berlebihan memang, disamping alamnya yang indah, penduduk yang ramah dan bersahaja, Takengon juga di berkati dengan tanah yang subur dengann sumber air  dari Danau Laut Tawar yang melimpah.

Tidak hanya kopi yang tumbuh subur di Takengon, segala jenis sayur dataran tinggi tumbuh subur disini. “Dahulu, kami tidak pernah melakukan jual beli karena semua kebutuhan sudah dicukupi dari kebun sendiri, padi yang tidak pernah kosong dari lumbung rumah, sayur yang tinggal petik , serta ikan yang melimpah dari danau , membuat kami merasa selalu beryukur kepad Allah” Begitu  cerita Bang Nur yang merupakan pria asli Gayo, suku asli Takengon.

Alamnya yang kaya dengan hasil bumi dan iklim pegunungan yang sejuk mungkin menyebabkan karakter masyarakat Gayo berbeda dengan suku Aceh di pesisir timur dan barat Provinsi Aceh. Masyarakat Gayo lebih lembut, bersahaja dan tidak terlalu ekspresif. Karakter masyarakat Gayo ini akan semakin terasa apabila kita ke pelosok-pelosok desa di sekitar kota Takengon.

Tidak hanya kopi dan danau, Takengon juga memiliki kekayaan lainya yaitu Nenas khas Gayo yang legit dan manis. Nenas Gayo berbeda dengan nenas daerah lain di Indonesia. Sepintas tidak ada yang berbeda antara Nenas Gayo dengan Nenas di tempat lain, namun ketika sampai di Lidah, Nenas Gayo terasa lebih manis seperti madu. Hampir tidak ada rasa asam seperti kebanyakan nenas, Tekstur NenasGayo juga lebih lembut dengan warna kuning pucat, dan manis seperti madu.

Kekayaan dan keunikan takengon tidak hanya diatas buminya. Dibawah permukaan Danau laut Tawar yang tenang dan mistis, terdapat sejenis ikan endemic yang hanya ada di Danau Laut Tawar, yaitu ikan Depik . Konon ikan ini adalah jelmaan tongkat sakti pemuka adat Gayo yang diceburkan ke danau laut tawar. Uniknya, ikan ini hanya muncul pada bulan februari. Selain bulan tersebut, ikan ini seakan hilang dari danau. Jadi, kalau anda ingin menikmati gurihnya ikan ini, datanglah ke Gayo pada sekitaran bulan Februari.

Kuda juga merupakan bagian dari kebudayaan Gayo. Konon, sepuluh tahun yang lalu, ketika kota Takengon belum seramai sekarang dan dimana-mana masih berupa padang rumput luas ,kuda-kuda liar dapat dijumpai di sekitar kota Takengon. Namun seiring perkembangan kota, Kuda-kuda liar tersebut tidak terlihat lagi, namun sudah dikandangkan. Kuda juga merupakan perlambang status sosial masyarakat Takengon. Jadi, meskipun anda punya ferrari, jaguar atau kijang di bagasi, namun semua tidak ada artinya kalau anda tidak punya Kuda di pekarangan belakang rumah. Kira-kira begitu.

MEmang, lagi-lagi tak salah kalau Abang Nur, dengan bangga mengatakan bahwa tanah leluhurnya, Dataran tinggi Gayo adalah Surga di Bumi Rencong.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: