Kami adalah Orang Gayo

Meskipun secara administrative, daerah dataran tinggi Gayo tergabung dalam Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, namun ternyata orang-orang Gayo sendiri memiliki kekhasan khusus yang membuat Suku Gayo berbeda dengan Suku Aceh kebanyakan.

Berbeda dengan Masyarakat Aceh di Pesisir Timur dan Barat yang kebanyakan adalah keturunan Gujarat, Arab dan Tamil, masyarakat Gayo bisa dikatakan sebagai penduduk asli Aceh. Tampilan fisik dan Bahasa masyarakat Gayo lebih mirip dengan suku Karo di Sumatera Utara. Dan memang, dari penuturan masyarakat setempat mereka satu keturunan dengan suku Karo dari Sumatera Utara. Dan bila dilihat dari peta, wilayah Gayo dan wilayah Karo memang bersebelahan yang dibatasi oleh Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung.

Bahasa Gayo berbeda dengan bahasa Aceh. Sepintas, terdengar mirip bahasa suku Karo. Namun lebih halus dan tidak terlalu banyak tekanan. BEgitu juga dengan budaya, pakaian adat dan kebiasaan masyarakat Gayo yang lebih dominan sebagai petani agak sedikit berbeda dengan masyarakat Aceh yang kebanyakan pedagang dan pelaut. Konon, Gayo adalah asal nenek moyang suku Karo (menurut versi masyarakat Takengon). Karo sendiri dalam bahasa Gayo berarti asing atau mengasingkan. Menurut legenda masyarakat setempat, suku Karo dahulunya dalah bagian dari Suku Gayo yang berbeda pendapat dengan pemimpin suku pada waku itu. Karena tidak ketemu kata sepakat, akhirnya kelompok masyarakt itu pun meng”karo” atau mengasingkan diri ke  dataran tinggi karo di pinggang gunung Sibayak dan Sinabung.

Seperti kebanyakan masyarakat dataran tinggi, karakter masyarakat Gayo cendrung lebih tenang dan tidak serlalu ekspresif dibandingkan masyarakat Aceh pesisir. Sehingga jangan khawatir bertanya atau memulai percakapan dengan masyarakat Gayo karena mereka sangat menyukai tamu , dengan catatan tetap memperhatikan kearifan budaya lokal setempat.

Keunikan ini juga lah yang menyebabkan daerah ini tidak terlalu bergejolak dan terpengaruh dengan konflik yang pernah mendera Aceh beberapa tahun yang lalu. Namun karena untuk menuju kota berkabut ini harus melewati daerah-daerah pesisir Aceh yang  masih bergejolak, akhirnya Takengon dan Gayo tenggelam dan terisolasi selama beberapa dekade. Perdamaian Helsinksi membawa harapan baru dan membangunkan Gayo dan Masyarakatnya dari tidur panjangnya selama ini.

Sebagaimana di daerah lain di Provinsi Aceh,  masyarakat Gayo terkenal teguh melaksanakan Syariah Islam dengan kearifan lokal sendiri. Meskipun demikian penegakan hokum syari’ah secara massif tidak seketat di Banda Aceh atau daerah Pesisir Aceh lainnya. Sehingga, jangan heran kalao di Takengon atau di Bener Meriah anda tidak melihat polisi Syari’ah sebanyak di Banda Aceh, namun nuansa Islami sangat terasa di kota.

Tidak ada aturan khusus untuk menikmati indahnya kota Takengon dan dataran tinggi gayo. Cukup berpakaian sopan , maka masyarakat Gayo akan menerima kehadiaran anda dengan ulasan senyum hangat dan bersahaja.

Categories: Uncategorized | 13 Komentar

Navigasi pos

13 thoughts on “Kami adalah Orang Gayo

  1. Ahmadi

    bicara kesukuan pastinya kita mesti memiliki banyak referensi yang autentik tentang asal muasal suku ini, apalagi gayo mengatakan bahwa karo nenek moyangnya gayo. timbul pertanyaan saya karo itu marga atau suku? karna saya juga menemukan ditanoh gayo ada munthe dan marga – marga lainnya. dan sejak kapan sebutan gayo ini ada sehingga gayo pun menjadi sebuah suku. karna orang jawa yang ada ditanoh gayo juga menyebut diri mereka gayo padahal jelas mereka suku jawa. jadi coba dijelaskan

    • botsosani

      Yth . Pak Ahmadi
      Thx atas atensinya. Untuk pertanyaan bapak, mohon maaf saya tidak ada kapasitas utk menjawab krn sy bukan ehli etnografi dan juga tidak terlalu mendalamisejarah Gayo ( kbtln sy juga bukan orang gayo), tapi apapun itu, keberadaan suku gayo sebagaimana suku2 lain di Indonesia telah ikut mewarnai kebhinekaan bangsa ini. Salam – BSP

  2. betry agrisa

    salam kenal bg🙂
    saya betry agrisa smansa padang 2011
    aktif di Galapagos
    senang baca tulisan-tulisan abg.

    • botsosani

      Salam kenal Betry, walau saya bukan alumnus GLP, tapi saya sangat suka kegiatan Galapagos dan selalu pantengin foto-foto hasil jepretan anak2 GLP begitu mereka turun Gunung. Jaya selalu SMANSA Padang dan Galapagos yaaaa:)

  3. Tgk. Jabal

    saya asli aceh..pidie..tinggal d sigli…dulu saya sangat menyukai orang gayo khususnya wanita turunan gayo…entah kena apa..? nah..yang menjadi masalah sekarang saya sudah berkeluarga….udah punya 2 anak dan masih punya isteri…tapi kalau lihat wanita gayo langsung suka dan jatuh cinta…? sangking sukanya pada suku gayo sampai saya belajar bahasa gayo….dan mengikuti semua kesenian gayo,..lebih-lebih lagi didong… mohon solusi bagi yang membacanya..!! terimaksih.

    • oline

      waaahhh.. mksi bnyk tengku sudah menyukai suku gayo juga wanita” gayo yang memang sgt ramah karena keterbiasaan dari budaya nenek moyang kami terdahulu..
      Sy msh keturunan suku asli gayo tepat nya di Kab. Bener Meriah saya juga bangga menjadi salah satu keturunan dari muyang datu saya bangga dgn adat istiadat, budaya juga keunikan sejarah dari suku kami suku dataran tinggi gayo.

  4. ewien

    referensi yg sangat lemah…tidak ilmiah….

    • botsosani

      Thx komennya mas ewien. Sekali saya sampaikan, tulisan ini adalah kesan dari wawancara sekilas dengan masyarakat Gayo, tentu saja tidak ilmiah dan lebih pada pengungkapan emosional. Dan tentu tidak bisa dijadikan wacana ilmiah:). Semoga mas Ewin bisa memaknai tulisan ini dalam kerangka keberagaman Suku Bangsa di Indonesia:)
      Salam
      Bot SP

  5. diae marta

    hmhmhm slm kenal y bg…saya afri asli pdg skrg tengah menjalani kuliah d unsyiah Banda Aceh..
    hmhmhm bicara tntg budaya cukup luas,, apalagi d jurusan saya khususnya Konseling Unsyiah bnyk sekali anak2 gayo yg kuliah dsana. dn saya sering bergurau dg mereka antara karo dn gayo. saya senang dg suku apa saja krn qt satu tanah air. tp kbanyakan qt slalu membanggakan suku qt sndri. yg ingin saya tanyakan apakah gayo mrupakan penduduk asli aceh? lalu bgaimana bs trjd perbedaan bhs yg sangat jauh antra aceh dn gayo?
    ynk comment ny bg …
    “aqu bangga mnjd org Indonesia”

    • botsosani

      Well, rasanya saya tidak pada kapasitas untuk menjawab secara ilmiah. Tapi, menurut pemahaman otodidak saya, perbedaan bahasa ini biasanya berkaitan dengan lingkup pergaulan pada masa pembentukan kebudayaan tersebut yang pada masa dahulu terkait dengan kontur geografis. Kalau kita lihat, masyarakat Gayo berkembang di daerah pegunungan dan terpisah dengan masyarakat Aceh pesisir oleh jejeran perbukitan dan “Natural Barrier” lainnya. Pada masa dahulu kan tidak ada pembatasan provinsi,dan karena sesama dipegunungan masyarakat Gayo mungkin lebih sering berinteraksi dengan masayrakat Karo sehingga bahasa mereka relatif lebih dekat (disamping kemungkinan faktor satu keturunan tadi). Pola yang sama terlihat dari masarakat Minang dan Melayu Riau. Kenapa masyarakat di sealiran sungai Kampar dan Kuantan memiliki bahasa yang relatif sama dengan masyarakat di dataran tinggi Minang ketimbang dengan masyarakat Mandahiling disisi utara Sumatera Barat, padahal kalau kita ambil jarak garis lurus antara Minang dan mandahiling relatif lebih dekat? Minangkabau dan Riau terhubungan oleh Sungai yang merupakan urat nadi pembauran pada masa itu. Sedangkan antara Minang dan Mandahiling (Tapanulis Selatan) terpisah oleh pembatas alami berupa pegunungan dan lembah dalam. Sekali lagi, ini pandangan common sense saya ya, bukan pandangan ilmiah karena saya bukan ahli etnografi, linguistik atau antropologi:)

  6. asalmmalykm bg ,bg saya sendiri suku gayo
    tapi saya tidak tau pasti aa suku gayo memiliki marga

  7. narno
    Alhamdulillah ,wassyukurilah , saya pribadi keturunan Jawa kelahiran Jakarta dan tinggal di jakarta yang memiliki istri orang gayo mertua tinggal di tanah Gayo ( Takengon ) setiap liburan Idul Fitri ,bersamaan jadwal masuk sekolah di Jakarta ,waktu saya habiskan bersilaturahmi ke tanah Gayo yang pasti 6 hari dihabiskan waktu perjalanan PP Tg. Priok .Tanah Gayo, dan yang pasti juga laut terseberangi gunung di daki hutan dilewati ,Indahnya dalam perjalanan apalagi memasuki wilayah Bener Meriah sejuknya ,keramahan penghuninya, betapa kayanya Indonesia ini bahkan sering terpikir untuk tinggal di Tanah gayo .
    Tanah gayo adalah surga bagi siapapun yang datang ,baik dari wilayah Aceh lainnya maupun luar Aceh , banyak keturunan Jawa yang menetap di tanah gayo bahkan ada juga yang tidak mengerti seperti apa tanah Jawa asal nenek moyangnya bisa saya simpulkan berarti sebagian keturunan Jawa tersebut sudah beranak pinak di tanah Gayo , saya bertamu ketanah Gayo seperti saya berkunjung ke wilayah Jawa asal nenek moyang saya ternyata suku jawa lumayan banyak sampai kepelosok .
    saya sering ketanah gayo , dan mengerti persis keramahan penduduk aslinya ,kalau boleh tahu tolong tuliskan selain gayo apakah masih ada suku asli lainnya sedangkan ACEH adalah : Arab ,Cina ,Eropa dan Hindia tolong koreksi jika salah .

    balas

  8. narno

    saya pingin cerita lebih banyak dari tanah gayo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: