BOROBUDUR KU SAYANG, BOROBUDUR KU MALANG

Beberapa tahun lalu, publik Indonesia dikejutkan dengan hasil pooling sebuah situs pariwisata internasional tentang the new 7 wonders. Dalam hasil pooling tersebut,  Borobudur ternyata sudah tidak masuk lagi dalam the seven wonders (tujuh keajaiban dunia). Berbagai protes sporadis dan membabi buta dimuat di berbagai media. Namun hysteria tersebut lenyap di sapu zaman. Borobudur kembali tenggelam dan hanya menjadi penghias brosur-brosur travel dan billboard pariwisata Indonesia.

Pada pertengahan Januari 2010, saya berkesempatan mengunjungi salah satu dari lima “must visit destination”Indonesia ini ( Menurut saya, ada lima must visit destination di Indonesia; yaitu Borobudur, Minangkabau, Toba, Toraja, dan Bali).

Memasuki pelataran Borobudur, perasaan takjub dan kagum bercampur baur dalam benak saya. Bangunan yang sangat cantik tersebut terhampar megah di atas area yang memang agak tinggi di banding daerah sekitarnya. Saya sempat berpikir, apakah ini betul-betul sebuah mahakarya manusia, atau ada kekuatan lain yang turut campur didalamnya (let say; seperti anggapan beberapa ahli yang mengatakan bahwa Piramid di bangun oleh Alien…hehehehe).

Selidik punya selidik, setelah nguping dari Guide group tur rombongan di sebelah, ternyata Borobudur bukanlah candi tempat sembahyang atau persembahan. Borobudur ibarat sebuah buku besar ajaran Buddha yang disusun sedemikian rupa sehingga setiap murid yang belajar harus melewati setiap sisi dan sudut candi tersebut secara perlahan-perlahan untuk mencapai nirwana pengetahuan di titik paling atas.

Alangkah hebatnya nenek moyang bangsa ini, pada abad ke 6, sudah mampu membuat sebuah simulasi pengetauan yang sedemikian apik. Ternyata arca dan relief didinding Borobudur adalah refleksi dari ajaran Buddha Gauthama. Menurut sang Guide, sang raja pada waktu itu ingin memindahkan pusat ajaran Buddha dari Sriwijaya ke Mataram pada waktu itu (konon Dinasti Sailendra adalah keturunan Sriwijaya yang hijrah ke Jawa, setelah runtuhnya Sriwijaya).

Namun, agaknya pikiran saya tidak sama dengan ribuan pengunjung yang lain. Bagi mereka Borobudur tak lebih dari susunan batu yang “cool”dan siap sedia untuk direcoki untuk bisa bernarsis ria disana. Pengunjung, yang nota bene kebanyakan turis domestic, tidak ambil pusing dengan relief, makna, atau nilai sejarah Stupa-stupa tersebut. Banyak yang memanjat stupa, duduk di patung Buddha, atau bahkan mencoret batu-batu candi tersebut hanya untuk menandakan bahwa mereka pernah kesana.

Tapi saya tidak menyalahkan pengunjung, karena mungkin baru sampai disitulah pemahaman mereka tentang wisata sejarah. “Masa bodoh dengan nilai sejarah yang penting gw ada foto nya disana”, kira-kira begitu mungkin isi kepala mereka. Yang saya sayangkan adalah pengelola yang seakan mengeksploitasi Borobudur habis-habisan tanpa memperhatikan kondisi candi agung tersebut.

Andaikan Pengeloa atau Pemda mau sedikit berbesar hati, mereka seharusnya membatasi pengunjung yang memasuki badan candi. Di beberapa sisi, seperti di Puncak Candi, seharusnya di beri pagar pembatas agar pengunjung tidak seenaknya duduk dan lesehan di stupa bersejarah tersebut. Dan masih banyak hal yang bisa dilakukan agar kesakralan dan kemegahan candi cantik ini lebih terjaga.

Sebenarnya kondisi ini tidak hanya dialami Borobudur saja. Banyak situs-situs rumah ibadah bersejarah di Negara ini yang tidak dijaga semestinya, apalagi ketika rumah ibadah itu berada di lingkungan yang bukan pemeluknya. Terlepas dari masalah akidah dan keyakinan, tapi nilai sejarah yang ada pada bangunan tersebut adalah nilai-nilai keluhuran universal dan saya yakinvsemua agama pasti setuju untuk melestarikannya.

Bali memberikan kita contoh, bagaimana masyarakat Hindu Bali bisa tetap khusuk beribadah sementara puluhan turis sibuk lalu lalang di area Pura. Masyarakat Bali mengkomodir keinginan turis untuk mengadabadikan kecantikan pura dengan serangkaian tata tertib, seperti ; turis harus menggunakan sarung, wanita haidh tidak boleh masuk, dan berbagai aturan lain yang ternyata dipatuhi oleh pengunjung. Kesakralan pura tetap terjaga meskipun dijejali puluhan turis setiap hari.

Kembali ke Borobudur. Saya bukan penganut Buddha, saya juga bukan orang Jawa, tapi atas nama kecintaan saya pada Indonesia, sungguh hati saya miris melihat Borobudur yang kian terkorosi kecantikan dan auranya karena ulah anak bangsa sendiri.

Suatu pemandangan miris di depan mata kepala saya sendiri,saat itu kolega saya dari Thailand tampak khusuk berdoá menghadap ke Stupa utama, sedangkan disisi stupa utama itu segeromboloan ABG tampak bersenda gurau menginjak stupa dan berfoto-foto ‘ga jelas’ sambil membuang punting rokok sembarangan. Ironis sekali, borobudurku tersayang Borobudur ku nan malang.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: