Pantai Santolo, Another Dreamland Beach at The Southern of Garut (Part 2)

Damn…!!!!, ternyata sosok yang nyaris membuat jantung saya copot hanyalah tunggul-tunggul kayu yang teronggok di pinggir jalan. Fuihhh, padahal tadi saya sempat terbayang kisah horror Gunung gelap ala ABG kota garut tadi sore.

Tepat jam 11 malam, kami memasuki kota Pameungpeuk. Sedikit ulasan tentang Pameungpeuk, kota kecil ini berada di sisi selatan kabupaten Garut. Buat orang Bandung atau Jawa Barat, Pameungpeuk seringkali lekat dengan stereotip údik’, kampung, ndeso dan jauhhh dari peradaban. Padahal kota kecil ini tidak ndesa-ndeso sekali, masih ada waralaba nasional plus restoran padang disini, hehehe. Kota ini memiliki pemandangan yang sangat cantik, dengan sawah dan jejeran pohon kelapa serta pegunungan parahyangan yang membentang di belakangnya.

Akhirnya kami menginap di sebuah bungalow berdinding bambu berlantai papan. Menurut si empunya, bungalow ini cukup untuk 8 orang hanya dengan 250 rb include breakfast, hmm..menarik. Akhirnya  kami memutus menginap di bungalow tersebut dengan harapan malam itu kami bisa tidur lebih cepat agar bisa menyaksikan sunrise di pantai keesokan harinya. Besoknya kami bangun jam ketika matahari telah tinggi, secara kami baru tidur jam 2 malam karena keenakan ngerumpi ngga jelas..hehehehe.

Setelah breakfast nasi goreng ala kadarnya, kami segera  menuju pantai Santolo. Jalan menuju pantai cukup baik, ditengah-tengah hutan semak yang diselingi pohon kelapa dan pandan laut serta puluhan ekor sapi yang sedang asyik arisan dan nongkrong sambil melahap rumput. Tak sampai 10 menit, kami tiba di pantai Santolo.

Kenapa dinamakan Santolo? Sampai saat ini saya belum mendapat jawabannya. Tapi yang pasti pantai ini sangat indah, melengkung setengah lingkaran dengan pasir putih (butiran pasirnya mirip dengan pasir di Pantai Dream Land Bali) dengan ombak yang cukup besar. Sayang sekali tidak banyak yang bisa dilakukan di pantainya karena tidak banyak wahana/peralatan yang ada, disamping ombaknya cukup besar dan pantainya agak curam. Tapi sekedar bermain ombak atau duduk di pasirnya yang lembut sambil memandang ombak, laut dan pegunungan parahyangan sudah memanjakan mata juga sudah sangat lebih dari cukuplah.

Sungai Air Asin

Puas memandang cantiknya pantai Santolo, kami menyebrangi sebuah muara kecil dengan perahu nelayan menuju pulau di seberang muara. Dipulau ini kami sengaja memutari pantai –pantainya yang cantik dan tersembunyi diselingi karang-karang tajam beraneka bentuk. Sesekali penyakit banci foto kami keluar, sehingga perjalanan menjadi lebih lama karena sibuk bernarciss ria di depan kamera.

Yang unik disini adalah bentuk pantainya yang landai, keras seperti lantai teras rumah. Dari bibir pantai sampai 50 – 100 meter ke tengah berupa lantai karang, datar dan dangkal. Setelah itu, ombak setinggi atap rumah tampak bergulung-gulung di depan. Ombak tersebut pecak di teras, sehingga air tempias ombak itulah yang sampai ke bibir pantai. Unik, mungkin inilah pantai terunik yang pernah saya lihat secara langsung.

Akhirnya kami sampai disebuah muara mungil yang dihubungkan dengan jembatan gantung. Disini terdapat sungai air asin. SUNGAI AIR ASIN??? Sebenarnya bukan sungai, namun disini air laut yang terperangkap di bibir pantai tadi mengalir kembali ke muara dan melewati jeram sepantai 15 meter. Sekilas mirip jeram-jeram sungai pegunungan, padahal ini adalah air laut yang kembali menuju muara. Unik bukan???

Ternyata pantai santolo terhubungan dengan pantai sayang heulang. Setelah puas berpanas-panas dan menikmati angin pantai yang hangat, kami kembali ke pantai Santolo melewati jalur trekking hutan. Sempat nyasar, namun berbekal pengetahun mencari jejak sewakti aktif di Pramuka SMA, akhirnya kami bisa kembali ke jalur utama dan bertemu muara untuk menyebrang kembali ke pantai Santolo.

Mata Lembu, Nasty but Tasty…

Setelah cek out, saya kembali menelusuri sisi pantai selatan garut yang lain. Setelah berputar-putar ga jelas, akirnya kemi terperangkap di pantai Sayang Heulang. Pantainya sih biasa saja, kalah jauh dengan santolo, tapi disini lebih banyak warung makan. Menu utama yang disajikan adalah mata lembu. Akhirnya kami mampir dan memesan 2 ikan bakar dan satu porsi besar mata lembu.

Dan..jreng, mata lembu terhidap pertama kali. Ternyata yang namanya mata lembu adalah sejenis keong laut. Si Ceceu yang punya warung menghidangkan seember besar keong, lengkap dengan alat pencongkel. Tadinya saya berpikir alat tersebut untuk mengorek daging keong, ternyata salah besar. Kami tetap tak berhasil mencongkel dan melahap mata lembu.

Menyadari muka bego kami, di Ceceu akhirnya menunjukkan cara ‘menikmati’menu andalan warungnya. Caranya, cangkang keong di pukul-pukul ke lansanan kayu sampai isi keongnya keluar. Setelah keluar, lalu di bersihkan dengan kait kecil tadi. Lalu dicocol ke sambal dan langsung dimakan.

Keongnya sih ga masalah, namun bentuk daging keong yang  buntutnya berwarna hijau melingkar-melingkar mengingatkan saya pada t@k@i kerbau atau ulat bulu, sehingga saya ogah untuk menikmati. Taufik, teman saya ,  rupanya penasaran (tepatnya terpaksa makan, karena cuma ada ikan bakar dan mata lembu ini, dan Opik ga suka ikan), lalu mencocol daging keong tersebut dengan saos dan menelannya. Hmm…saat itu saya yakin sekali Opik akan memuntahkan ‘mata lembu’itu atau paling tidak itu adalah makan siang terakhirnya disana. Ternyata tidak, Opik malah mengambil satu lagi dan melahapnya. Kawan-kawan yang lain juga ikut meakukan yang sama. Sepertinya mereka sangat menikmati.

Karena penasaran, akhirnya saya beranikan untuk mencoba. Sambil memejamkan mata dan membaca doá berkali, akhirnya satu mata lembu berbalur sambal masuk ke kerongkongan. Hmmm….ternyata enak juga. Mirip makan kerang laut di resto sushi terkenal. Tapi saya Cuma sanggup makan beberapa, karena sudah keburu bad first impression. (Note; untuk urusan makanan, selagi halal, jangan terlalu banyak berpikir, kalo tidak kita akan menyesal seumur-umur karena tidak bisa menikmati yang sebenarnya ‘tasty’ meskipun bentuknya ‘nasty’).

Sore itu saya dan kawan-kawan kembali ke Jatinangor dan melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta. Selamat tinggal Santolo dan Pamengpeuk, terima kasih untuk pengalaman dan alamnya.

Categories: Uncategorized | 3 Komentar

Navigasi pos

3 thoughts on “Pantai Santolo, Another Dreamland Beach at The Southern of Garut (Part 2)

  1. novie

    no cp bungalownya dunk??? ^_^

    thanks yaa

  2. irma

    pengen bgt ke sini

  3. pengen bgt kesini, bisa minta no telp bungalownya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: