Pantai Santolo, Another Dreamland Beach at The Southern of Garut (Part 1)

Berbicara tentang Garut, pikiran kita pasti akan melayang pada manisnya aneka Dodol Garut, atau Jaket Kulit yang murah meriah, dan jejeran pegunungannya yang eksotik yang dihiasi ratusan hektar kebun teh dan puluhan sungai jeram serta air terjun.

Namun, sebagai beach lover, setelah hasil googling dan kacamata dewa lewat google earth, saya membawa si sexy berbody bohay dengan mesin VVTi 1300 CC, Lady Veona de Grey, alias Venna, menuju sisi selatan pulau Jawa, Garut.

Setelah menyelesaikan urusan pekerjaan di Bandung, saya langsung menuju Jatinangor untuk bertemu dengan adik-adik tercinta di Unit Pencinta Budaya Minang (UPBM) di UNPAD sana. Sekedar melepas rindu dan berbagi cerita dengan mereka agaknya telah mengobati rasa rindu saya akan dinamika dunia kampus sekaligus mengobati kerinduan akan kampung halaman di Sumatera Barat sana.

Setelah sholat jumát, saya dan beberapa “companion”segera lepas landas menuju Garut langsung dari Jatinangor. Selama perjalanan, hujan cukup lebat mengiringi kami. Sempat terbetik di pikiran saya untuk kembali ke Jatingangor atau bergabung dengan ribuan penduduk Jakarta yang sedang memadati Bandung saat long weekend tersebut. Namun, rasa penasaran akan pantai selatan Garut dan pesona jejeran pegunungan parahyangan yang sangat menggoda seperti gadis-gadisnya, akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Garut.

Kami sampai di alun-alun kota Garut tepat jam 17.30. Untuk sejenak saya sengaja parkir tepat di tengah kota Garut dan berbaur dengan penduduk lokal yang sedang memadati salah satu pusat jajanan kuliner di kota Dodol tersebut. Setelah putar-putar berjalan kaki dan makan secukupnya kami melanjutkan perjalanan menuju Pameungpeuk, sekitar 130 km lagi dari ibukota Garut.

Hati-hati Banjing Luncat A’…

Oh ya, perlu disampaikan, ini adalah perjalanan yang terbilang nekad secara tak satupun dari kami yang pernah ke Pameungpeuk. Dan secara Pameungpeuk, atau Pantai-pantai selatan kabupaten Garut belum setenar Cipanas, Papandayan atau Situ Canguang. Jangankan orang luar, orang Garut sendiripun jarang yang pernah menyinggahi pantai-pantai yang konon kabarnya eksotis dan mistis tersebut.

“Punten Kang, abdi teu teurang kumaha rute na”Jawab si Mamang tukang sate kambing yang menjadi menu utama makan malam kami di Pasar Garut saat itu.

“Jalanna rawan, nanti akang teh..lewat Gunung Gelap, loba bajing luncatnya diditu..”Seorang remaja tanggung yang kebetulan duduk disebelah kami juga menimpali saat kami tanyakan rute ke Pameungpeuk.

Seketika muncul lagi ide untuk menunda perjalanan hingga besok pagi. Mungkin sebaiknya menginap di Garut saja, dan mengelilingi kota Garut, atau berendam di Cipanas seru juga kali ya. Tapi, lagi-lagi saya sudah keburu kalap ingin segera mendengar suara debur ombak selatan yang terkenal garang dan ganas. Setelah itung punya itung, akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Pameungpeuk malam itu juga. “Mumpung masih jam 7.30 malam”.

Dan benar saja, kami memang memasuki jalan-jalan berliku danb berkabut. Hampir tak terlihat satupun di sekitar kecuali yang tersorot oleh cahaya lampu mobil. Suasana cukup mencekam, lantunan tembang “Maliq d Essential Vol. 1” yang sengaja diputar tak mampu menepis ketegangan saat itu. Tiba-tiba di salah satu tikungan tajam dan berbelo, muncullah sesosok yang sama-sama tidak duga… (bersambung ya..)

Categories: vacation | Tags: , , , , | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Pantai Santolo, Another Dreamland Beach at The Southern of Garut (Part 1)

  1. uwierozak

    apa yang muncul tiba-tiba uda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: