Belitung Escapology (Part II)

fly-me

Setelah meletakkan tas bawaan kami (yang akhirnya saya sadari banyak barang-barang yang mestinya tidak saya bawa), kami beristirahat sejenak di beranda cottage. Bagunan cottage ini sangat sederhana namun bersih, meskipun warna-warna yang digunakan untuk melapisi kayunya agak terkesan ‘ngejreng’, tapi mungkin untuk menonjolkan cottagenya.

Setelah minum kopi, kami segera memakaian dress code pantai yang sudah disiapkan, putih-putih. Kami menyusuri pantai didepan Cottage.

Aduhai, ternyata ucapan Rizka temen sekantorku, si Putri Belitung tidak salah. Pasir Pantainya bener-bener putih. Bukan keputih-putihan atau putih kekuning-kuningan, tapi..truelly white dengan tekstur yang halus seperti terigu. Saya begitu takjub melihat keindahan pasir pantai Kelayang ini dengan tak henti-henti berucap alhamdulllah. Terima kasih ya Allah, hamba telah di beri kesempatan melihat salah satu karya terindahmu.

DSCN5008DSCN5009DSCN5021DSCN5169

Sebenarnya trip ke Belitung kala itu nyaris tidak terdokumentasi karena ternyata saya lupa membawa memory card kamera. Alhasil, sore itu kami terpaksa menghapus beberapa foto narcis selama di pesawat dan di Tanjung Pendam. Syukurlah, Rudi, pengelola hotel bersedia membantu membelikan memory card tersebut karena kebetulan malam itu dia akan ke Tanjung Pandan.

Paginya, saya tidak melewatkan sunrise di sisi kanan pantai. Meskipun cuaca agak berawan, namun tidak menyurutkan niat kami untuk melihat matahari terbit. Namun cuaca ternyata lagi tidak bersahabat, akhirnya hujan turun dan kamipun kembali ke cottage dengan harapan hujan segera berakhir dan awan berganti matahari bersinar cerah.

Do’a kami terkabul, menjelang jam 11 siang, langit berangur cerah dan menampak warna biru terang. Lautpun mendadak tenang dengan gradasi biru muda yang menggoda. Dan akhirnya kamipun berangkat menuju Pulau Lengkuas, salah satu ikon Pulau Belitung dan menjadi daftar kunjungan wajib selama di Belitung.

Dalam perjalanan menuju Pulau Lengkuas, kami melewati beberpa pulau-pulau batu granit maupun pulau-pulau berpasir putih dengan jejeran pohon kelapa diatasnya. Mata tak berkedip dan mulut tak berhenti memuji keindahan alam ciptaan Tuhan ini. Ternyata saat itu lagi musim ubur-ubur, dari atas kapal, saya bisa melihat rombongan ubur-ubur tak putus-putus berenang kian kemari.

DSCN5034DSCN5045DSCN5046DSCN5063DSCN5079DSCN5069

Tak sampai satu jam, lamat-lamat terlihat sebuah menara mercu suar berdiri kokoh disebuah pohon berbatu. Semakin lama semakin jelas raut tua menara mercu suar di pulau lengkuas. Pulau cantik dengan pasir putih dan air laut yang landai dengan jejeran batu-batu granit besar beraneka bentuk dan ukuran di sekitarnya.

Ternyata menara ini sudah berumur lebih dari 120 tahun. Dari tanggal yang tertera di pintu masuk menara, tertulis tahun 1886. Setelah mendapat ijin, segera kami menapaki ratusan anak tangga menuju puncak menara. Menara tersebut terdiri atas 17 tingkat dengan tinggi sekitar 40 meter. Meski sudah berumur lebih dari seabad, tangga dan bangunan bajanya masih kuat, meskipun beberapa kaca jendela sudah pecah.

Panorama di puncak menara suar ini sangat-sangat indah. Dari sini terlihat sisi barat laut pulau Belitung dengan garis pantainya yang membentang sempurna dari timur ke barat. Beberapa rangkaian pulau kecil dengan batu-batu granit juga terlihat menghiasi lautan yang mengahru biru. Lokasi menari ini memang strategis karena berada tepat di mulut Luat Cina Selatan dan menjadi penanda masuk bagi kapal-kapal yang hendak melewati selat bangka menuju Jakarta dari Bandar Malaka dan Singapura. Tak heran, sejak dahulu Belitung jadi rebutan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, seperti Sriwijaya, Majapahit, Melaka dan Palembang.

Setelah puas berfoto dan melepas penat sembari menyegarkan mata, kami kemudian turun ke bawah. Pulau Lengkuas sebenarnya memiliki potensi besar menjadi salah satu objek wisata andala Belitung bahkan nusantara. Sayang, potensi ini dibiarkan tergerus jaman sehingga kian lama kian lapuk di makan zaman.

Sesampai di pantai, tanpa basa-basi, saya langusng buka baju dan menceburkan diri ke laut yang bening dan dangkal tersebut. Setelah dari kemaren tidak sempat berenang dan bersentuhan dengan air laut Belitung, kali ini saya tuntaskan semuanya. Laut dan pantai adalah hiburan yang paling indah yang tidak akan tergantikan dengan apapun didunia ini.

Puas berenang dan bercengkrama di pantai yang cantik ini, kami kembali beranjak menuju tanjuk Kelayang. Diperjalanan kami sempat melihat pelangi melintang indah di bumi Belitung. Tak salah memang kalau Andrea Hirata menulis Laskar Pelangi yang kemudian menjadi sebutan baru bagi Belitung, Bumi Laskar Pelangi.

Menjelang sore, kami menyusuri sisi barat tanjung kelayang yang ternyata masih asri karena jarang di singgahi manusia. Berbeda dengan sisi utara yang banyak berdiri warung-warung dan pondok-pondok istirahat, sisi barat belum di bangun apa-apa selain pohon kelapa dan padang rumput.

Kami berhenti di sebuah sudut berbatu perisi tepat di tengah-tengah teluk pantai tersebut. Disisi kiri terbentang pantai pasir putih yang melengkung indah sampai keselatan, sedang disebelah kanan, bertaburan batu-batu granit khas belitung diselingi pasir putih dan air laut yang mengisi sela-sela bebatuan tersebut.

Sambil berendam di laut yang hangat, sore ini kami menyaksikan matahari terbenam di ufuk barat. Sempurna, karena langit bersih dengan semburat awan tipis yang memantulkan rona jingga matahari sore, serta siluet pulau tepat di depan kami menambah indah sunset kala itu. Bisa dibilang, itu adalah salah satu sunset time terbaik yang pernah saya lihat.

Malam menjelang, kali ini kami sengaja keluar dari area cottage untuk mencari makan malam spesial, Grangan Kepala Kekarap. Atas rekomendasi Rizka, sang Putri Belitung, kami menembus pekatnya jalan di pojok belitung ke arah tanjung tinggi. Ada dua resto yang direkomendasikan, Cong Bu atau Rindu Pantai. Karena sudah kadung lapar, ahirnya kami nmampir di Cong Bu kaerna lebih gampang di capai dan nogon duluan. Kami memesan Grangan Kepala Kekarap dengan bumbu rempah. Ajib….enyak-enyak-enyaaakkkkk….!!!

Senin pagi, kami kembali ke Tanjung Pandan untuk kembali ke bandara. Hujan gerimis di pagi hari membuat kami membataslkan rencana kami untuk mengunjugi pantai tanjung tinggi yang juga menjadi ikon Belitung karena pernah menjadi lokasi syuting ”Laskar Pelangi”.

Dan pesawat Boeing 737-200 Batavia Air mengakhiri perjalan ’escapolgi’ saya dan sabahat saya, Yoggie di pulau Belitung. Pulau yang masih memendam sejuta pesona dan potensinya. Saya hanya berharap, beberapa tahun kedepan Belitung masih secantik dan selugu saat ini, penduduknya tetap murah senyum dengan bahasa melayunya yang mendayu merdu. Mudah-mudahn Pulau cantik ini tidak ikut tergerus oleh raksasa kapitalis bisnis pariwisata dunia. Sampai jumpa lagi Belitung.

Categories: vacation | Tags: | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Belitung Escapology (Part II)

  1. mantebbhh…jadi pengen balik lagi ke sana😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: