JELAJAH PALEMBANG…WHY NOT ???

Persiapan mendadak, uang cekak, langit badai pula…beuh!!! hamper saja perjalanan ku kali ini ke Palembang aku batalin. Setelah leyeh-leyeh agak lama di kosan, akhirnya aku memaksakan diri berangkat ke pool damri Blok M – Bandara.

Sepanjang perjalanan, aku berpikir..angin apa yang membuatku mau korban begitu besar ke Palembang… Kalo ke Bali, Padang atau Manado, masuk akallah. Tapi ini Palembang gitu loh…meskipun belum pernah ke Palembang, tapi di kepalaku bayangan tentang Palembang tak lebih dari sebuah kota berpenduduk padat, banyak mall (tipikal kota besar di Indonesia), dengan satu jembatan besar yang konon katanya jembatan terindah di Indonesia. Seberapalah cantiknya jembatan, jembatan Sydney aja bagiku biasa aja…

Tapi berhubung kali ini judulnya adalah menghadiri acara nikahan Sahabatku, akhirnya niat itu aku luruskan. Well, Palembang ..here I come

Palembang dari udara

Palembang dari udara

Dari atas pesawat, samar-samar kulihat sebuah hamparan kota berpenduduk padat yang dibelah sebuah sungai besar yang meliuk bagai ular raksasa berwarna kuning pekat. Hmm..melihat konturnya yang relatif datar, aku jadi teringat kota Pontianak. Persis, bedanya kota Palembang lebih ramai, dan sepertinya…lebih seruJ

Sesampai di Bandara, aku langsung menuju hotel yang dusah pesan temanku. Tadinya aku berharap hotel ini berada dekat jembatan Ampera. Tapi temenku memilih hotel di komplek Polisi, biar aman dan ga digrebek..(hehehe..emang mau ngapain pake digrebek segala pak..:)

Malam itu juga, aku berburu makanan ala Palembang yang sudah lama ingin kucoba. Martabak Har…berbeda dengan martabak telur di jakarta, atau martabak Kubang di Padang, martabak Har ini memang betul-betul isinya telur. Dimakan dengan kuah kari yang rasanya mirip kuah sate padang, Cuma tidak terlalu pedas. Hmm..unik juga. Paling tidak rasa penasaranku terjawab.

Malam itu, saya dan kawan menuju Jembatan Ampera yang masyhur itu. Ternyata jembatan Ampera itu lebih cantik dimalam hari dan juga lebih cantik kalau melihat aslinya. Kata temanku, dulu daerah ini daerah kriminal, jangan harap bisa duduk-duduk malam hari disini. Tapi sekarang, sejak pelaksanaan PON di Palembang, semuanya dibersihkan dan sudah jauh lebih aman.

Setelah puas foto-foto, aku diantar kembali menuju hotel. Istirahat untuk persiapan acara nikahan sahabatku besok. Acara nikahan sendiri juga unik, karena memadukan tiga kebudayaan, yaitu Minangkabau, Palembang dan Jawa (Solo). Kebetulan sahabatku berasal dari Tiku Pariaman, sedangkan calon istrinya campuran Solo-Palembang. Aku mengikuti prosesi adat suap-suapan dan icap-icapan ala Palembang, tapi pengantennya memakai pakaian Minang. Lucu yah…

Malamnya, saya berburu Pempek yang jadi kebanggaan kota Palembang. Meskipun hujan mengguyur, saya tetap menguber yang namanya Pempek. Temanku, namanya Izzy, mengajak ke Pempek Vico di depan Palembang Indah Mall (PIM). Kai pesan pempek campur dengan minuman es kacang merah campur (konon ini khasnya di Palembang..hehe, mirip es Kacang Merah di Manado, cuam di Palembang es serutnya lebih halus dan lebih ber susu). Pempeknya enak banget dan cukanya boleh diambil sesukanya. Berbeda kalo makanpempek di jakarta yang pelit cuka (kuah), kalau di Palembang kita boleh mengambil cukanya sesuka hati, seru kan!!!

Paginya, aku makan Mie Celor di Pasar 26 Ilir. Mie Celor itu berupa Mie kuning lurus yang disiram kuah santan gurih yang ditaburi seledri. Bentuknya mengundang selera, tapi begitu saya coba…kok biasa aja. Ternyata…rahasianya adalah ..Cuka. Aku terinspirasi dengan anak remaja tanggung yang menyiramkan cuka ke mie celor nya. Setelah Aku coba…hmmm, baru Ajibbbbbbb rasanya.

Malam minggu, aku puaskan hasrat motret di daerah Jembatan Ampera dan Bundaran Mesjid Agung. Sebenarnya aku agak kecewa dengan mesjid Agung, karena bangunan baru yang dibuat menutupi bangunan asli yang menurutku lebih eksotik dan unik. Bagusnya, bagunan mesjid yang asli masih dijaga dan tidak digabung dengan bangunan baru. Kalau mau melihat bangunan asli, kita harus lewat Belakang mesjid.

Minggu Sore, setelah beli dua kardus kecil Pempek, aku kembali ke Jakarta, menembus langit Palembang yang masih diguyur hujan. Masih ada beberapa objek ”must visit” yang aku kunjungi di Palembang, Pulau Kemarau, Bukit Siguntang, Museum Balaputra Dewa.

3275_72329753177_709948177_1754372_4026699_nampera23275_72334758177_709948177_1754447_7427248_n13275_72334783177_709948177_1754450_3916702_n

So, jalan-jalan Jelajahi Palembang…Why Not???

Plus:

Kota Palembang termasuk rapi, jalannya bersih dan mulus

Akses transportasi umum gampang, kecuali taksi

Objek wisata di kotanya relatif dekat dan berada dilokasi yang sama

Hampir semua fasilitas hiburan kota besar ada di Palembang, begitu juga dengan outlet franchise ternama hampir semua ada disini

Minus:

Ciri khas kotanya kurang menonjol, tidak terlalu banyak sentuhan tradisional di sudut-sudut kotanya. Berbeda kalao kita ke Jogja, Padang dan Denpasar

Dominasi bangunan adalah Ruko, hampir bisa dikatakan kalau kota Palembang adalah kota dengan Ruko sepanjang jalan.

Plaza terbuka di dekat Benteng Kuto Besak kurang terpelihara kebersihannya, dan kurang terang pada malam hari, sehingga masih terkesan ”spooky”

Categories: Uncategorized | 6 Komentar

Navigasi pos

6 thoughts on “JELAJAH PALEMBANG…WHY NOT ???

  1. Kapan ke palembang mbo.. ?

  2. botsosani

    Udah 2 bulan yg lalu Dee..
    KApan pulang ke Indo nih..??

  3. woro tyas

    kalo cuma ada waktu dari pagi sampe kira-kira jam 7 malem, mana aja yang recomended untuk didatangi bro?

    • botsosani

      Hmm…kalo siang hari paling cari aktivitas indoor aja. Atau paling ke mesid raya dan jembatan ampera (tapi lebih cantik kalo sore atau pas magrib).

  4. selendang

    – Plaza terbuka di dekat Benteng Kuto Besak kurang terpelihara kebersihannya, dan kurang terang pada malam hari, sehingga masih terkesan ”spooky”

    saya sendiripun yg org palembang gk berani klo sendirian kesana

    • botsosani

      Thx commentnya..
      Mudah-mudahan menjadi masukan buat pemda kota Palembang ya. Jujur saja, melihat Palembang saya teringat Bangkok, mungkin Bangkok beberapa tahun yang lalu seperti Palembang. Andai saja Pemda Palembang fokus pada pembenahan sekitar sungai Musi, saya yakin akan mejadi multiplier effect buat kehidupan pariwisata disekitarnya. Tentu saja, juga dipikirkan “maintenance” nya. Karena kebiasaan bangsa ini adalah muluk diperencanaan, heboh saat peresmian dan cendrung lalai untuk memelihara..

      Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: