Dari Padang ke Pariaman; Cross A Long the Coast

Nelayan di Pantai Ulakan

Nelayan di Pantai Ulakan

Perjalanan dari Padang ke Pariaman, kota kelahiran gw kali ini agak berbeda karena kami sengaja mengambil rute yang agak luar biasa. Biasanya dari Padang ke Pariaman akan melewati rute PAdang, Lubuk Alung, PAriaman. Tapi kali ini kami sengaja mengambil rute pantai..PANTAI MEN..!!! Tepatnya Padang, Pantai Ketaping, Pantai Ulakan, Pantai Sunur, Pantai Kata, Pantai Cermin, dan Pantai Gandoriah di Pusat kota Pariaman. Dijamin sepanjang jalan, birunya laut dan pasir putih keabu-abuan akan menemani pejalanan Loe…seru kan!!!

Memasuki daerah Ketaping, jalanan mulai mengecil dan agak rusak. Yah, lumayan lah buat mengaduk-ngaduk perut. Rumah-rumah penduduk yang sangat sederhana tersusun berjauhan, pola persebaran penduduk khas daerah pesisir Sumatera Barat (makanya tak heran dialek orang Pariaman lebih keras karena rumah mereka berjauhan dan harus mengalahkan suara ombak…ceu na!!)

Setelah setengah jam dari jalan utama, kami menemukan sebuah Gereja dan perkampungan penduduk. Anehkan, di daerah pedalaman Sumatera Barat yang mayoritas beragama Islam terdapat perkampungan Kristen.

Ternyata ini adalah kampung orang Pagai atau Kampung Orang Mentawai dan Nias yang sudah bermigrasi ke daerah ini puluhan tahun lalu. Mereka menetap disini, berladang dan membuka perkampungan sendiri. Tak jauh dari Gereja terdapat, begitu keluar dari kampong Nias, terdapat Mesjid yang cukup megah untuk ukuran daerah sesepi itu. Yah..that’s lifeJ, unity in diversity.

Akhirnya kami memasuki jalur pantai ketaping. Kalau loe buka Google Earth dan lihat lokasi bandara Minangkabau, akan terlihat garis pantai yang begitu panjang disekitar bandara, itulah pantai ketaping yang masih asli. Ombaknya tidak terlalu besar dan cukuplandai. Sepanjang jalan kami dapat melihat pantai dan laut yang biru danluas. Beberapa pulau kecil mengintip di ufuk barat sana..keren Men!!!

Tak lama, kami memasuki daerah persawahan, kata Bokap, daerah ini bernama TAPAKIS, lucu ya namanya. Hutan nipah (sejenis pohon sagu) dibeberapa titik menjadi pemandangan yang unik. Sesekali kami melihat bongkahan tanah hasil kerja hewan tanah. Sawah juga banyak menghiasi desa ini. Dan tak lupa Surau (Mesjid) dengan arsitektur khas Minang kami lihat disetiap kilometernya. Tak heran kalau Sumatera Barat dikenal juga dengan Negeri Seribu Surau.

Perjalanan akhirnya sampai di sebuah Jembatan yang membentang disebuah Sungai (tepatnya muara). Sungai ini cukup lebar, kira-kira 300 meter. Bokap gw bilang, dulu di muara ini Buayanya gede-gede, jadi kalau mau menyebrang harus naik kapal rame-rame kalau gak mau jadi menu makan siang nya..hiii serem. Dan sialnya, tepat ditengah-tengah salah satu papan jembatan itu (oh ya, jembatannya masih semi permanent, masih pake kayu giu deh), amblas. Roda mobil kami nyaris masuk ke lobang tersebut, lumayan besar. Duh…gw jadi ingat buaya yang diceritain nyokap, kalau sempat kita nyebur ke Sungai, selamatlah kita jadi Makan Siang sang Raja Muara itu.

Berkat kelihaian sang Sopir, mobil kami lolos dari lobang maut itu. Dan pejalanan dilanjutkan. Sampailah kita di Ulakan, pusat penyebaran Islam di Minangkabau pada era abad ke 16. Disamping wisata sejarah Makam Syech Burhanuddin yang dikunjgi pezirah seantero SUMBARIAU-JAMBI, kota kecil ini juga memiliki wisata kuliner yang unik dan “MAK NYUSSS”.

Dikota kecil ini ada Pantai Tiram yang dijejeri kios-kios olahan Hasil Laut ala Minangkabau. KAlau anda tidak mau repot-repot ke pantai dan tidak mau makan berat, disepanjang jalan utama banyak penjual gorengan hasil laut, seperti udang gorang, kepiting dan lain-lauin yang gurih rasanya.

Dari Ulakan, setelah belanja Udang Goreng Tusuk, kai melanjutkan perjalananmenuju Pariaman. Lagi-lafi melewati beberapa pantai, yakni Pantai Kata (bukan Kuta), Pantai Cermin dan akhirnya Pantai Gandoriah di pusat Kota Pariaman. Kekhasan pantai-pantai di Pariaman adalah jejeran pohon cemara laut yang memberukan kesan sejuk, berbeda dengan pantai lianny ayang banyak di tumbuhi pohon kelapa. Yang palin goke adalah saat sunset, pulau-pulau mungil di depan pantai memberi kesan dramatis sehingga sunsetnya jadi lebih indah dan syahdu..Gak percaya, datang dan buktikan sendiri di Pariaman.

Sesampai di PAriaman, kami terus ke rumah Nenek dan berziarah ke kuburan keluarga, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Bukittingi dan MAninjau. Hmm…Sumatera Barat emang ga ada habisnya kalau buat jalan-jalan.

Categories: vacation | Tags: , , , | 3 Komentar

Navigasi pos

3 thoughts on “Dari Padang ke Pariaman; Cross A Long the Coast

  1. Sumpah, udah lama saya tinggal di Padang, tapi belum pernah ke Pariaman lewat pantai. hahahaha. Pengen bangeetttt

  2. Sri hy

    wahh.. saya juga udah melewati pesisir pantai itu loh, ada kebun semangkanya juga. apalagi kalo lagi panen, sepanjang jalan banyak tuh, yang jualan semangka baru di petik.. oya jangan lupa juga nyobain makanan khas pariaman, “sala lauk” mmm.. nyam, nyam,
    oya, uda botsosani gak nyobain “nasi sek” di pantai sunur ya? di pinggiran pantai itu banyak berjejer pondok makan, masakannya spesialis ikan, yang pasti ikannya masih seger-seger. uniknya, nasinya dibungkus kecil-kecil pake daun pisang, pas di buka, mmm.. aroma nasi plus daun pisangnya membangkitkan selera, tambah gulai ikan kapalo lauk, samba lado, abuih pucuk ubi, dan sala lauk, oalah.. bikin gak sadarkan diri, he..he..he.. (tidak dianjurkan untuk yg lagi diet) apalagi sambil memandang ke laut, mendengar suara ombak. habis makan langsung main pasir, dan kalau ada nelayan yg baru pulang, kita tolongin narik perahu/ jalanya rame-rame, ntar dapat “bagian” deh dari pak nelayan, he..he..
    maaf ya, kebanyakan ngomong..🙂

    • botsosani

      Tentunya Uni, kampuang Ayah saya kan Di Sunur, kalau lewat jalur Ketaping – Ulakan – Tapakis – Sunur, kita selalu mampir di Ulakan membeli rakik Udang, trus ke Sunur buat cari makan nasi Sek Sunur yang Lamakkk bana rasanyo. Ohya, kalau dari Pariaman, dulu saya sering beli oleh-oleh beripa Kipang Kacang Pasie khas Haji Anas. Saya ga tahu sekarang masih produksi apa ga, solanya sekarang usaha mereka sudah pindah ke Padang. Itu Kipang Kacang terbaik yang pernah saya makan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: