Get Fresh in Bandung

( 14 Maret 2006 )


Jum’at magrib, telat 5 menit dari btas terakhri check in di Bandara Ngurah Rai Denpasar.

“Mas, lain kali check in nya jangan telat yah, ini kebetulan penerbangannya delay 15 menit, jadi mas masih bisa kami layani” Demikian teguran petugas bandara dengan logat khas Bali dan untaian senyum indah di bibirnya. Cantik, gumanku dalam hati.

Memang sih, kali ini aku tidak sendiri. Sore itu aku sebenarnya menemani dua orang teman kantor yang sudah kuanggap kakakku sendiri. Kak Taswin, baru mutasi dari Prop. Bangka Belitung tapi asli palembang. Sepintas terlihat seram, tapi kalau sudah kenal, orangnya luwes dan mulutnya seperti penuh dengan humor-humor segar yang siap mengocok perut siapaun yang beruntung mengenalnya. Satu lagi Daeng Madi, atau aku lebih suka memanggilnya, Kak Madi. Kak Madi juga baru mutasi dari Makassar. Kebetulan kak madi mau kursus bahasa Jerman di Goethe Institut, Jakarta, untuk persiapan kuliah S2 di Jerman tiga bulan lagi (amien, I pray for that my Bro..!!).

Kembali ke Bandara, ketika sedang check in dan bersikukuh untuk minta satu bangku dengan posisi PW (Paling Wuenakk), tiba-tiba dua orang ibu-ibu, atau tepatnya tante-tante menyelonong dan minta agar barang bawaannya digabung ke bagasi kita. Awalnya sih OK-OK saja, karena kasihan juga kalau Ibu itu kena charge lagi. Tapi, begitu dua kantong pertama masuk, datang lagi 3 kantong besar yang berisis souvenir, seperti untuk di jual lagi dijakarta, atau entah untuk apalah. Tapi, who cares!!! Yang pentoing sudah kita bantu, masalah yang lainnya, hanya Allah yang tahu, demikian ujar Daeng Madi. How wise you are J.

Perjalanan 1,5 jam menuju Jakarta seakan tak terasa karena sepanjang pesawat kami selalu berdiskusi. Mulai dari maslaah kantor (DAMN!! That’s the part I hate!!), masalah Cintrong, ampe masalah pakaian dan body pramugari (hehehe, wajib itu).

Kami sampai di bandung jam 11.30 malam WIB. Segera setelah tas dan bawaan lainnya di simpan di kamar adik kos ku, kami segera bergegas ke warung mie terdekat untuk mengisis perut yang sudah dari tadi sore menderita lapar. Dan sehabis makan, kami bertiga terkapar tak berdaya, alias pulazzzzzz.

Day Two

Paginya, untuk kedua abangku itu, sengaja ku belikan nasi kuning langganan ku di depan rumah. Murah meriah, cukup 2 ribu perak untuk satu piring nasi kuning khas Bandung. Berteman satu cangkir kopi cream buatan Vally, adik kos ku yang baik hati (thanks’s Vall), sarapan sederhana itu kami sikat habis. And after that, Let’s the journey Begin.

Dengan mobil sewaan berupa kijang super , kami segera meluncur menuju Puncak Tangkuban Perahu. Aku sendiri sudah pernah kesana, tapi kebetulan aku membawa dua turis, Daeng dan Kakak Taswin. Ga apa-apa lah, pikirku. Sebelum jalan kesana, kami singgah dulu di sebuah warung khas Sunda di daerah Lembang untuk makan siang. Untuk menu sengaja ku pilih nasi Timbel komplit. Makan sambil memandang alam pegunungan Parahyangan memang nikmat sekali.

Selesai sholat Dhuhur, kami bergeas menuju puncak Tangkuban Perahu. Gunung yang terkenal dengan legenda Sangkuriang. Kisah cinta suci namun terlarang yang selalu dikenang. Dalam perjalanan ke kawah Ratu Tangkuban Perahu, kami disuguhi pemandangan hutan pinus dan dinginnya udara pegunungan. Buat kami yang bisa tinggal di Denpasar, udara pegunungan memang suatu barang langka dan menyegarkan. Bau belerang mulai menusuk hidung ketika mobil mulai merayap di pinggang gunung.

Tak sampai satu Jam, kami bisa menikmati eksotisme Kawah Tangkuban Perahu. Walaupun nuansa alami agak terusik dengan ramainya pedagang di puncak tesebut, namun kami tetap bisa menikmati keindahan ciptaan Allah SWT disana. Sesekali Kak Taswin dengan banyolannya membuat suasana tambah segar dan cair. Tapi aku lebih banyak mendapat pesanan request untuk memotret si Daeng Madi yang ternyata gemar berpose di depan kamera. “Untuk koleksi pribadi” Kilahnya.

Tangkubanperahu_2

Oh yah, kami bertiga ditemani adik kos ku, namanya Rully. FYI, Rully bersedia membatalkan jadwal kencannya malam mingu buat menemani kita. Heehehe……Thx juga Bro

Sehabis berdingin-dingin di Puncak Gunung, kami turun ke Ciater. Mau berendam di kolam air panas judulnya. Karena tak satupun dari kami bertiga yang membawa celana renang, terpaksa kami membeli tiga celana rang yang bertulis “SARI ATER”. Awalnya “emoh”, tapi setelah pikir punya pikir, kami memutuskan membeli tiga set celana renang warni hitam dengan corak sama. Itung-itung souvenir, ujarku menghibur diri (padahal aku sudah menyiapkan celana renang dari Denpasar lho…)

Eits….jangan kira acara kami berjalan mulus. Ternyata …!!! Air panas yang kami harapkan itu ternyata benar-benar panas. Begitu kaki dicelupkan, rasa panas langsung menyengat sampai ketulang. Niat untuk mandi dan berbasah-basahan jadi surut seketika. Tapi aku masih sempat berenang. Dan ngga sopannya, Kak Taswin asyik aja berenang seperti katak kian kemari, tidak memperdulikan air panas yang benar-benar panas tersebut. Dasar kulit badak!!!

Tangkubanperahu_25Tak sampai 15 menit,kami segera menyudahi acara ‘rebus-rebusan’ ini. Mata mulai perih dan kulit telapak tangan mulai berubah warna, kena panas air belerang. Setelah bilas dan sebagainya, kami segera bertolak ke Bandung. Waktunya menacak-ngacak kota Bandung. Cuci mata dengan pemadangan khas kota Bandung. Time to hunt the Hot and sexy girl with black straight hair, white skin, and in pink costume. Bandung banget!!!!.

Perburuan pertama di mulai di Surabi Enhai, yang terkenal sebagai tempat nangkring cewek-cewek bandung yang cantik di seputar kampus Enhai. Misi pertama lumayan. Disamping menikmati serabi Enhai yang terkenal, kami juga disuguhi pemandangan gadis-gadis Bandung yang enak di pandang mata.

Perburuan selanjutnya, Ci Walk, Cihampelas Bandung. Mall yang keren abiss, serasa di Orchid Road Singapore. Pohon-pohon pinus berjjer rapi menghiasi taman Mall yang apik. (Aku jadi teringat kisah perpisahan dengan Ms. L sewaktu mau ke Bali dulu). Wow….puluhan objek indah lalu lalang didepan kami. Aduh, maaf pembaca, bukannya melecehkan, but, The girls was so ….I cann’t define it it words.

Selanjut,…biasa..shopping di FO-FO kota Bandung.

Sasaran pertama, For Men Factory Outlet, yang khusus menyediakan baju-baju khusus Cowok. Hampir setengah jam kami mengubek-ubek toko yang didisain seperti Ranch Koboi tersebut. Daeng Madi berhasil menemukan satu jaket kaos, bagus banget dan harganya juga miring. Aku dan Kak Taswin pulang dengan tangan hampa.

Bip_5Selanjutnya perjalanan di arahkan ke Dago. Tapi karena sudah kadung capek, kami kembali ke rumah untuk mengisi tenaga untuk perjalan berikutnya. Breath the night atmosphere of Bandung!!!!!

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: