UPBM, Martir Minang yang Bukan Minang

Suatu hari, di meja redaksi sebuah majalah bergenre Minangkabau, datang sepucuk surat. Dari kop surat tersebut, terlihat jelas bahwa si pengirim adalah sebuah organisasi mahasiswa dari Universitas Padjadjaran – Bandung yang menamakan dirinya Unit Pencinta Budaya Minangkabau (UPBM).

Setelah dibaca, ternyata surat tersebut menyampaikan keberatan organisasi ini atas statements dari artikel majalah ini yang dimuat pada edisi lalu, karena mencantumkan UPBM sebgai salah satu unit organisasi mahasiswa Minang yang ada di kampus-kampus perguruan tinggi di Bandung. Sebuah tanda tanya besar muncul di benak redaksi, kalau begitu apa UPBM itu? Bukankah di namanya jelas-jelas di sebutkan Minangkabau sebagai roh gerakannya?

Memang tak banyak yang memahami keberadaan organisasi yang berdiri bulan Oktober 1986 ini. Jangankan pihak luar, kalangan civitas akademika UNPAD pun akan dengan seenaknya menyebutkan UPBM dengan sebutan Unit Padang atau Unit Minang UNPAD. Pun begitu dengan anggota organisasi ini yang masih belia dan masih belum memahami apa sebenarnya UPBM tersebut.

Dalam AD/ART pendiriannya, UPBM sudah menasbihkan diri sebgai unit penalaran budaya, yang mengambil kebudayaan Minangkabau sebagai dasar pijaknya. Meskipun mayoritas founding father dari organisasi ini adalah mahasiswa asal Minang, tapi dengan kesadaran dan nasionalitas tinggi, serta pandangan visi kedepan, mereka tidak merancang UPBM sebagai unit yang bersifat paguyuban atau primordial. UPBM dirancang untuk terbuka terhadap siapa saja yang ingin mengenal dan mempelajari secara bersama-sama kebudayaan Minangkabau.

Dari kacamata UNPAD sendiri, UPBM merupakan salah satu bukti keragaman UNPAD dan menampik pameo yang beredar bahwa UNPAD hanya untuk Pasundan. Dengan membentuk UPBM, UNPAD ternyata telah membuktikan dirinya bahwa perguruan tinggi ini adalah institusi terbuka dan moderat.

Sebagai unit Penalaran Budaya yang mengupas Minangkabau sebagai roh dari setiap pengkajiannya, UPBM mencoba mengadaptasi nilai-nilai demokratis adat Minangkabau dalam kehidupan berorganisasi. Prinsip kkeluargaan dalam bergaul, dan mengedepankan Profesionalitas dalam setiap urusan organisasi. Suatu kombinasi yang unik yang menjadi UPBM berbeda dengan unit kegiatan lainnya di UNPAD, dan unit berbasis Minangkabau lainnya di Bandung.

Struktur kepengurusan mengadaptasi prinsip tungku tigo sajarangan, dimana fungsi Ninik Mamak (fungsi eksekutif) dipegang oleh Ketua dan jajaran pengurusnya, fungsi Alim Ulama (Judikatif) dipegang oleh Badan Musyawarah Angota, dan fungsi Cadiak Pandai (Legislatif) dipegang oleh Badan Musyawah Anggota yang diadakan setiap tahun.

Dalam setiap kegiatan, UPBM selalu mengedepankan kepentingan kaderisasi dengan penggemblengan proses berpikir dan kemampuan berwacana. Prinsip ini juga diambil dari kebiasaan masyarakat Minang yang selalu mencari kata mufakat dalam setiap penyelesaian masalah dan gemar melakukan diskusus dalamkehidupan sehari-hari. Dalam masyarakat Minang tempo dulu, Lapau selalu menjadi sentral diskursus dimana banyak ide-ide cemerlang yang muncul dari dialektika khas lokal Minang. Dialektika dan Diskursus inilah yang menjadi acuan dasar kedarisasi UPBM. Anggota UPBM di latih untuk dewasa dalam berpendapat. Basilang kayu ma hiduik, artinya peredaan pendapat adalah kunci menemukan titik terang dan ide yang lebih bernas. Perlu dicatat, setiap rapat ataupun pembicaraan resmi UPBM selalu dibawakan dengan bahasa Indonesia. Hal ini merupakan komitmen dari keterbukaan unit ini terhadap mahasiswa non minang yang ingin ikut bergabung di UPBM.

Salah satu ejawantah dari Penalaran Budaya UPBM adalah kegiatan pengkajian kesenian. Minangkabau yang kaya akan seni dan tradisi seolah-olah tak pernah habis untuk digali dan dipelajari. Keunikan UPBM dalam hal ini adalah, UPBM menjadikan kegiatan kesenian ini sebagai wadah pembentukan mental dan semakin memahami nilai-nilai adat Minang. Sehingga diharapkan anggota tidak hanya bisa dan trampil memainkan atau membawakan seni tradisi seperti tarian, musik, randai dan sebagainya, akan tetapi juga memahami apa yang dipelajari tersebut. Ini cukup berat, mengingat ketiadaan nara sumber dan keterbatasan waktu.

Hampir setiap pendaftaran anggota baru, 40% pendaftar adalah mahasiwa bukan Minang dan bukan dari Sumatera Barat. Ini menunjukkan bahwa UPBM memang tidak diperuntukkan untuk Organisasi yang bersifat paguyuban atau pun primordial.

Akan tetapi, kecendrungan seperti ini hampir ada tiap tahunnya, dan rata-rata mahasiswa Minang sendirilah yang ingin membelokkan UPBM kearah kedaerahan yang sempit. Tentu ini tidak sesuai dengan visi awal pendirian organisasi ini.

Meskipun UPBM bukan sebuah unit kedaerah khusus Minang, akan tetapi, anggota UPBM diperkenankan mengembangkan kemampuan organisasi mereka di luar UPBM, bahkan di luar UNPAD.

Anggota UPBM tidak diharapkan menjadi manusia-manusia yang “bagak kandang”. Mengadopsi tradisi merantau di Minangkabau, setelah mendapat bekal yang cukup, anggota UPBM diharapkan berkiprah di luar UPBM, di organisasi kemahasiswaa maupun sosil kemasyarakatan di dalam atau diluar UNPAD dengan tetap menjalin komunikasi dengan Motherlandnya (UPBM).

Ketika kader-kader tersebut pulang dari perantauannya, membawa ilmu baru dan penalaman baru, yang kemudian akan di curahkan dalam Palanta UPBM. Sharing ilmu dan pengalaman, baik dengan kader yang senior maupun baru tentu akan semakin memperkaya khasanah berpikir dan wawasan anggota. Disitulah kunci utama organisasi UPBM. Tradisi inilah yang dipertahankan secara turun temurun selama leih kurang 20 tahun umur Unit ini.

Hasilnya, untuk lingkungan UNPAD, UPBM selalu menjadi centre of excellent dimana banyak anggota dan kader-kadernya yang kemudian aktif di Orgnanisasi kemahasiswaan lainnya di UNPAD, yang kemudian mendapat posisi penting bahkan dipercaya menjadi tampuk pimpinan di Organisasi tersebut. Beberapa kader UPBM pernah menjabat ketua Senat Fakultas dan Ketua Senat Universitas pada masanya. Mereka adalah kader-kader yang di awal karir organisasinya digembleng di Lapau Palanta UPBM.

Diluar UNPAD, anggota UPBM secara personal, turut aktif meramaikan kegiatan silahturahmi mahasiswa Minang se Bandung raya, atau kegiatan-kegiatan besar yang digelar oleh Persatuan Keluarga Minang. UPBM secara organisasi pun menjadikan Unit Mahasiswa Minang di Perguruan Tinggi, dan Organisasi berbasis Minang lainnya sebagai rekan dan mitra. Namun kembali ditegaskan disini, UPBM sendiri bukanlah unit Minang, akan tetapi Unit Kegiatan Mahasiswa yang Mencintai Minangkabau.

Categories: Ota Lapau | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: