MENGHADAPI TSUNAMI, Bersahabat atau Menantang Alam???

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah postingan di mailing list aktivis minang tentang wacana pembangunan tembok penghalang Tsunami di sepanjang Pesisir Sumatera Barat, terutama di Kota Padang yang memang sangat rawan akan Tsunami.

Ide ini mungkin mengadopsi system pengamanan yang dilakukan Jepang di beberapa kota yang rawan Tsunami di negeri matahari terbit tersebut. Penduduk tidak terlalu memusingkan bencana Tsunami yang mungkin meluluhlantakkan kota karena sudah di lindungi oleh tembok setebal 20 meter dan setinggi 20 mneter. Masuk akal juga, mengingat dengan ketebalan setinggi itu bisa mengurangi dampak destruktif dari Tsunami.

Saya juga membayangkan kalau nantinya di sepanjang Pantai Padang, Purus, parupuk, sampai ke Tiku Pariaman akan dibangun tembok tersebut tentu akan bagus juga, diatasnya dbuat jalan dan kita bisa memandang laut lepas tanpa harus takut terlibas Tsunami yang dapat datang sewaktu-waktu.

Akan tetapi masih dalam bayangan saya tersebut, ketika saya menukikkan mata ke bawah, saya jadi bertanya-tanya, bagaimana nasib nelayan tradisional yang bisanya melabuhkan perahunya di pantai tersebut. Tentu pantai-pantai yang indah yang bertebaran di sepanjang peisisir sumatera barat tidak akan sama lagi bentuknya, karena ada dinding setebal 20 meter dan setingi 20 meter yang menghalangi mat amemandang keelokan sun set di pantai-pantai tersebut.

Akhirnya saya mengulang lagi setting visi di benak saya tentang system pengamanan Tsunami di Kota PAdang yang sangat saya cintai.

Saya teringat sebuah kata-kata yang saya dapat dari seorang pelukis dan seniman Bali yang kebetulan rekan kerja saya di kantor sekaligus guru saya, untuk menaklukkan alam bukanlah dengan melawanya tapi jadikan alam itu sabahat anda, maka alam akan memberikan semua keindahan dan menfaatnya pada anda.

Membangun tembok , meninggikan tanggul, adalah langkah-langkah yang menurut saya adalah langkah melawan fitrah alam. Padahal Allah SWT telah menciptakan keselarasan maha sempurna dari alam yang ini. Apalagi Sumatera Barat yang dikaruniai bentang alam yang maha indah dan beragam. Mengapa kita tidak mengunakan dan menyelaraskan pola hidup kita dengan alam.

Beranjak dari prinsip ini, saya mencoba mereka-reka apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghadapi bencana Tsunami yang dapat menyapu peradaban masyarkaat Kota Padang.

  1. Relokasi kota.

Langkah pertama adalah merelokasi kota dengan mengurangi kepadatan pnduduk di pinggir kota. Caranya adalah dengan memindahkan pusat aktifitas kota jauh dari pantai atau lokasi-lokasi yang rawan bencana. Hampir 80 persen aktifitas kota padang berada di pinggir pantai. Padahal daerah yang lebih aman dan luas masih banyak terdapat di kawan timur, seperti sekitar By Pass Baru, Air Pacah dan sebagainya. Pemerointah Kota mungkin dapat mendrive pemindahan pusat aktifitas warga ke daerah ini sehinga dengan sendirinya masyarakat tidak lagi kukuh untuk berada di pinggir pantai.

  1. Kembalikan fungsi alami pantai.

Pantai-pantai di pesisir barat sumatera Barat, khusunya pantai Padang dan pantai Pariaman , Painan, telah beralih fungsi menjadi pantai kota yang dijejali bangunan dan jalan-jalan. Vegetasi alami yang biasanya menhiasi bibir pantai lenyap diganti lapak-lapak dan coran semen. Sehingga, ketika ombak atau air laut pasang, tidak ada satupun benteng yang melindungi. Untuk itu, perlu dilakukan pembangunan sabutk hijau terutama di lokaso-lokasi yang padat penduduk seperti pantai Padang, Ulak Karang, parupuk dan sebagainya. Kalau perlu 500 meter dari bibir pantai dijadikan kawasan steril dari bangunan, jalur hijau, dan harus tetap hijau. Agar vegertasi alami pantai kembali tumbuh dan melinduni kota dari abrasi terjangan air laut.

Beberapa penelitian sudah membuktikan bahwa vegetasi hijau di pantai, seperti hutan bakau, kelapa, nipah bisa melindungi daratan dari abrasi dan meredam energi hempasan Tsunami. Sehingga, kalaupun terjadi Tsunami dn merendam kota, yang ada hanya air genangan yang tidak membahayakan lagi.

  1. Sadarkan masayarakat akan kondisi daerah temapat tinggal dan hidup. Tak banyak maayrakat di Kota Padang yang paham akan kondisi geologis Sumatera Barat yang berada antara Lipatan dan Patahan (cesar) yang rawan akan bencana alam.. Sehingga mereka cenderung tidak antisipatif dan tidak mempertimbangkan aspek-aspek alam dalam pembangunan dan kegiatan. Saya rasa sudah saatnya masayrakat kota Padang untuk bersama-sama menyadari hal tersebut.

Pepatah Prancis mengatakan. ”BEAUTY is PAIN”, Cantik itu sakit, ternyata berlaku untuk kota Padang dan Sumatera Barat. Tinggal di kota dengan lanskap yang cantik memang butuh pengorbanan, dan paling tidak pengorbanan itu adalah dengan mengurangi keserakahan kita untuk mengeksplorasi alam dan siaga terhadap segala bencana yang mungkin menghadang dan datang tanpa diduga.

Akhirnya, apakah kita akan congkak dan menantang alam dengan membangun benteng dan dinding pemisah yang akan emisahkan kita dengan lautan yang sakti dan bertuah, atau justru kita kembalikan kearifan dan keselarasan alam yang pernah kite renggut dengan alasan ekonomi atau apapaun itu? Semua terpulang kembali kepada pilihan kita. Dan mungkin inilah salah satu isyarat prinsip ”Alam Takambang jadi Guru” yang di tuturkan turun temurun oleh Bundo Kanduang dan Mamak-mamak kita dari awal munculnya kebudayaan Minangkabau di Pariangan Padang Panjang ribuan tahun lalu.

Denpasar, 6 Desember 2007

Categories: Ota Lapau | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: