- Bersepeda Unto di Sawahlunto. Setelah cek in di hotel Ombilin, anda bisa mengelilingi kota ini dengan sepeda Unta yang sengaja dipinjamkan secara gratis oleh pihak hotel untuk tamu-tamunya. Cuaca Sawahlunto tidak terlalu dingin, namun tidak terlalu panas sehingga sangat nyaman untuk bersepada. Jalanannya bersih dan terawat.
- Get lost by foot. Jalan kaki adalah pilihan yang sangat direkomendasikan untuk menyelami lebih jah nuansa sejarah dan historis Sawahlunto. Kota ini relative kecil dan apik. Jangan takut untuk tersesat, penduduk kota ini sangat ramah dan helpful. Jangan ragu untuk bertanya atau menyapa.
- Hunt the History. Sempatkan membaca penjelasan ditiap-tia gedung tua. Hampir seluruh situs-situs bersejarah di Sawahlunto diberi papan penjelasan kapan berdiri dan manfaat gedung tersebut.
- Museum Batubara. Pemerintah kota Sawahlunto mengabadikan sejarah batubara di kota ini dengan membangun museum batubara yang merupakan satu-satunya museum batubara di Indonesia. Meskipun koleksinya tidak terlau banyak, namun museum batubara ini bisa memperkaya khasanah pengetahuan anda tentang sejarah panjng batubara di Sawahlunto dan Indonesia pada umumnya.
- Melihat “Baro” di Lubang Mbah Suro.Kenapa lubang yang lokasinya masih di komplek Museum Batubara ini bernama lubang tambang Mbah Suro. Ternyata mbah Suro adalah seorang mandor sekaligus paranormal yang disewa oleh Belanda untuk mengatur orng-orang rantai yang bekerja mengambil batubara di dalam lubang tambang tersebut. Orang rantai adalah tahanan criminal dan politik dari seluruh hindia belanda yang dikirim dan dihukum kerja paksa di sawahlunto. Disebut orang rantai karena di kaki mereka di beri rantai. Anda bisa bayangkan bagaimana rasanya menggali batubara diperut bumi dengan kaki di rantai??
- Museum Gudang ransum. Tak berapa jauh dari museum barubara dan lubang mbah Suro, terdapat Museum Gudang Ransum. Museum ini dulunya adalah komplek rumah buruh dan dapur umum untuk membuat makan/ransum bagi buruh-buruh tambang. Untuk memasak nasi dan membuat makanan bagi ribuan buruh tambang, belanda kemudian membangun senuah steam uap dengan bahan bakar batu bara. Dimuseum ini anda akan serasa melayang ke era awal abad 19. Banyak foto-foto maupun dandang serta peralatan memasak yang ukurannya super jumbo. Dibelakang gedung ransum ini juga terdapat dua buah mesin steam uap untuk memasak. Juga dipajang beberapa batu nisan orang Rantai. Berbeda dengan batu nisan yang biasanya bertuliskan nama, pada batu nisan orang rantai hanya ditulis nomor yang ditato tubuhnya.
- Museum Kereta Api Sawahlunto. Dengan semakin tingginya permintaan batubara di Eropa dan dibukanya pelabuhan Emma Haven (sekarang bernama Pelabuhan Teluk Bayur), pemerintah HindiaBelanda kemudian membangunjalur kereta api dari Sawahlunto sampai ke Teluk Bayur. Rel kereta ini membentang menghubungkan kota-kota utama di Sumatra Westchust (demikian sebutan bagi Sumatera Barat oleh pihak Hindia Belanda.Karena jalurnya melewati dataran tinggi minangkabau yang terjal, Belanda memndatangkan lokomotif uap khusu buatan Jerman yang saat ini hanya ada dua didunia, yang pertama digunakan sebagai kereta api wisata di Swiss, dan satu lagiberada di Muesum Kereta Api Sawahlunto. Orang Minang menyebut lokomotif ini dengan sebutan ‘Mak Itam”, atau paman berbadan hitam. Museum ini adalah museum kereta api pertama di Indonesia. Saat ini, setiap hari liburm, pemerintah Sumatera Barat telah mengoperasikan jalur kereta wisata dari Padang Panjang menuju sawahlunto, jalur ini bisa dikatakans ebagai jalur terindah didunia, karena melewati hutan tropis dan air terjun lembah anai, perkampungan minang di padang panjang, terasering sawah dan menyisiri pinggan Guynung Merapi, melewati tepian danau Singkarak, dan berakhir dikota antic sawahlunto.
- Sengsara membawa Nikmat di Danau Kandi. Danau ini sebenarnya adalah bencana yang berbuah berkah. Danau ini duunya merupakan areal penambangan batu bara tambang tersebuka. Karena kelalaian, tanggul pembatas antara lubang tambang dengan sungai Batang Lunto jebol dan menenggalamkan puluhan pekerja tambang di lokai tersebut. Sat ini, danau ini kemudian dijadikan areal rekreasi air di Sawahlunto. Berbagai atraksi olah raga air bisa ditemukan disini. Masih diareal danau, pemerintah Sawahlunto membangun sebuah kebun binatang tematik. Berbeda dengan kebun binatang Bukittinggi dimana binatang hanya seperti pajangan, di sawahlunto pengelolaannya lebih atraktif. Pengunjung dapat menaiki Gajah dan Unta mengelilingi danau…amazing kan? Bisa-bisa Bukittinggi kalah nih.
- Get the local Taste. Meskipun lebih banyak menjual nuansa era Kolonial, namun Sawahlunto kelilingi desa-desa tradisional yang masih kuat memegang adat dna budaya, trmasuk kuliner. Sebelum memasuki Sawahlunto, singgahlah di desa Siliungkang. Disamping terkenal dengan tenunan Silungkang yang merotifindah dan kualitas nomor satu, di desa cantik yang diapit bukit ini, terkenal dengan Sup Daging sapinya yang lazissss. Kemudian, tak jauh dari Silungkang, kearah Sawahlunto, tepatnya di desa Muaro Kalaban terdapaty sebuah rumah makantradisional yang menyajikan menu khas yakni, Dendeng Batokok. Berbeda dengan dendeng di ranah minang yang umunya di jemur kering kemudian digoreng, dendeng batokok disini dimasak dengan diasapkan, kemudian di tokok (ditumbuk) sampai pipih dan kemudian di celupkan kedalam minyak kelapa panas. Rasanya gurih dan manis.
- Next…Skylift di langit Sawahlunto. Pemerintah kota ini tidak tanggung-tanggung memanjakan wisatawan yang datang kekota ini. Setelahberhasil menyulap sawahlunto menjadi “Little Europe on Sumatra”, pemerintah Sawahlunto pada penghujung 2009 akan membangun Skylift yang kabarnya akan menjadi Skylift terpanjang nomor 2 di Asia Tenggara setelah Skylift di Genting Highland Malaysia. Dari Skylift, akan terlihat cantiknya kota Sawahlunto yang dibelah oleh Batang Lunto.
Ngapain Aja di Sawahlunto…??
BACK TO 30′S at SAWAHLUNTO
Sikuai in Rate…
Travelling to Maldives..ehhh, Pulau Seribu
Saya pernah membaca sebuah artikel tentang Kepulauan Maldives, dengan air laut yang sebening kristal. Kepulauan yang kabarnya merupakan jipkalan surga yang dijanjikan Tuhan untuk manusia di hari kemudian. Setelah membaca artikel tersebut, saya langsung menempatkan Maldives sebagai salah satu Most Desirable Place to Visit. Kaan yah…???
Belum kesampaian ke Maldives, tiba-tiba ada undangan Overnight di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu. Awalnya, saya agak ragu untuk memenuhi undangan tersebut, bukan apa-apa, mengingat reputasi air laut teluk jakarta yang sudah tercemar polutan berat sehingga 10 tahun rehabilitasi total pun belum tentu akan kembali bersih. Akan tetapi, siapa sih yang rela melewatkan undangan gratis??..hehehe
AKhirnya, kami , 10 kawanan pencinta laut (halah..) memulai perjalan menuju kepulauan seribu menaiki Kapal Penyebrangan dari Muara Angke Jakarta. Well, Muara Angke, nothing special but poluted water every where. Kalau di Bali saya selalu dimanjakan dengan biru nya lut, Muara angke terpaksa harus puas dengan pekatnya laut pelabuhan. Namun hal tersebut terobati dengan nuansa pelabuhan nelayan yang unik dan khas, ditambah beberapa gedung baru yang indah dibibir teluk jakarta.

Selama perjalanan, kami diombang-ambing ombak dan gelolombang yang kurang bersahabat karena kebetulan pada waktu itu lagi musim angin barat yang cukup kencang. Rully dan Yusdi, dua kakak beradik yang ikut rombongan akhirnya jackpot beberapa kali, saya sendiri basah kuyup kena semburan air laut yang menghempas perahu kami. But..that’s the part of vacation, disana letak serunya. Naik perahu penyebrangan biasa, bergabung dengan masyarakat lokal, ngobrol dan berinteraksi lebih seru ketimbang naik jet cruise..that’s not my type on vacation.
Akhirnya, setelah 2,5 jam diperjalanan, sampailah kami di pelabuhan Pulau Pramuka. Pulau Pramuka sendiri adalah ibu kota kabupaten administratif Kepulauan Seribu yang masuk dalam wilayah DKI Jakarta. Disinilah pulau yang paling ada peradaban diantara ratusan pulau yang bertebaran diteluk jakarta. Tidak ada mobil atau angkot disini, karena pulau ini bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari ujung keujung. Lorong-lorong jalannya terbilang bersih. Hanya saja karena pengaruh pemanasan global dan abrasi, pantai-pantainya hilang digantikan tanggul-tanggul penahan ombak.

Setelah cek in, dan memakai sun block seperlu nya (actually…I don’t need it since my dark brown skin has already burnt..hehehe), kami segera menuju pelabuhan untuk memulai petualangan di Maldivesnya Indonesia….SNORKELING!!!
Aktifitas pertama adalah mengukur pelampung dan kaki katak yang sesuai dengan ukuran, saya seperti biasa, cukup bilang….”yang ukurannya paling besar mas”..hehehehe:). Sebelum naik perahu, kami makan di warung tegal ala Pulau Pramuka yang ditunggu Ibu judes dengan menu Mie goreng, ayam goreng dan Pepes Gebuk (yang ini katanya khas Pulau Pramuka kepulauan Seribu).
Tujuan pertama adalah Pulau SMACKDOWN alias pulau Semak Daun. Pulau Mungil yang ukurannya paling hanya 500m2. Pasirnya begitu halus dan putihhh. Melihat pasirnyaa, saya jadi ingat pasir Pulau Sikuai yang sama putih dan halusnya. Hanya saja di Pulau Ini tidak ada pemandangan gunung-gunung khas pulau Sikuai di Padang sana. Disini kami belajar menggunakan Snorkling. Sebenarnya sesi ini agak membosankan buat saya, karena ini adalah kali keempat saya snorkling, tapi mengingat hampir semua temen-temen yang ikut belum pernah snorkling, akhirnya saya ikutin petunjuk instruktur kami, namanya Anggie.


Setelah sesi latihan ,kami menuju Atol di dekat Pulau Semak Daun. Tanpa babibu, saya langsung nyeburrrr..dan WUZZ…segera terumbu karang indah terhampar didepan kacamata snorkel saya. Subhanallah, ternyata tak jauh dari Jakarta ada surga yang tidak pernah disinggahi orang-orang jakarta sekalipun. Susunan terumbu karang dan ikan-ikan yang berseliweran begitu memanjakan mata. Sayang, saya nggak punya kamera bawah air, dan keindahan bawah laut memang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,jadi …bayangin aja sendiri ya.
Setelah puas di Pulau Semak Daun, kami pindah ke Atol Pulau Ayer, salah satu resort mahal di daerah Kepulauan Seribu. Disini jauh lebih indah, ikannya lebih banyak dan karang-karangnya juga beraneka ragam, mulai dari karang keras samapi karang lunak. Yang paling menarik disini saya dan kawan-kawan melihat ikan Layar yang jadi tokoh antagonis di Film Finding Nemo dan seekor penyu yang sedang asyik berenang. Sayang, disini kami tidak bisa berlama-lama karena ombak cukup besar.
Situs ketiga adalah sebuah atol didekat pulau Panggang, disini kami melihat pencangkokan karang oleh penduduk sekitar dibantu LSM-LSM pencinta terumbu karang. Bebrapa karang sudah mulai tumbuh meskipun masih butuh puluhan bahkan ribuan tahun untuk bsia seindah dahulu. Disini saya nyaris kena Bulu Babi karena terbawa arus, tapi dewi fortuna masih menginignkan saya mendapat kenangan manis di Pulau Seribu. Dan kami pun naik ke perahu dan kembali meneruskan perjalanan.
Sebelum kembali ke cottage, kami singgah disebuah restoran diatas atol. Menunya lumayan banyak meskipun agak mahal. Saya memesan secangkir kopi hitam, kentang goreng dan nasi goreng untuk menggganjal perut yang lapar setelah snorkling seharian.
Sekembali ke Cottage, malamnya kami makan di pinggir pantai dengan menu utama ikan bakar ala Pulau Seribu dengan sambel cabe rawit yang super pedas. Namun rasa lapar mengalahkan segalanya, sehingga ikan bakar plus arang dan pasir pun tandas kami sikat..hehehe
Dan malam pun berlalu, semua tertidur lelap. Rencana main poker dan gitar sampai pagi tinggal cerita, karena kantuk mengalahkan segalanya…
Pagi hari, setelah sholat Subuh, saya menyempatkan diri melihat sunrise di ufuk timur. Indah juga, dari pantai dekat cottage saya bisa melihat siluet gugusan pegunungan di Pualu Jawa serta bayangan pulau mungil persisi didepan kami.
Hari ini itu kami habiskan waktu berenang sampai teler dipantai didepan cottage. Airnya super bening dengan area landai yang luas. Sepintas, saya mebayangkan, mungkin air laut di Maldives pun hany abeda-beda tipis dengan disini. Ternyata Tuhan punya jawaban atas do’a saya selama ini. Mungkin Tuhan menjawabnya seperti ini..:Ngapain jauh-jauh Ke Maldives, khusus untuk orang Indonesia saya sudah menciptakan Kepulaun Seribu yang sama indahnya dengan Maldives..” hehehe.
Matahari pun bersahabat sehingga tidak terlalu terik dan kami bisa bercengkrama lebih lama. Menjelang pukul 10 pagi, kami kembali ke coittage dan mandi bersama-sama menimba air di sumur yang sedikit asin..masa bodoh, yang penmting bersih. Setelah Sholat Jum’at di Mesjid depan kantor Bupati, kami segera menaiki kapal penyebrangan untuk kembali ke kehidupan nyata bernama JAKARTA.
Resume:
Kepulauan Seribu muncul akibat gerakan tektonik, mungkin juga sebagai imbas dari letusan Gunung Krakatau tahun 1883 lalu. Dari 100 lebih pulau yang ada, baru 15 pulau yang dihuni dan diberdyakan. Kebanyakan penghuni pulau ini adalah nelayan bugis, kemudian berbaius dengan penduduk pendatang, jawa dan sunda. Harga disini tidak terlalu mahal, makan juga tidak mahal, Ada sebuah warung padang dan warung tegal tepat didepan dermaga kapal penyebrangan. Penduduknya ramah dan kebanyakan bermata pencaharian nelayan. Kegiatan pariwisata yang seharusnya jadi primadona belum banyak melibatkan penduduk lokal. Kebetulan operator travel kami adalah salah satu operator milik mayarakat lokal sana.
Operator Travel : MICKEY TRAVEL, 02170543284
TIket Penyebrangan dari Muara Angke Rp. 32.000
Sewa Kapal Rp. 400.000,-
Snorkling Rp. 50.000/orang
Sewa Cottage Rp. 500.000, – (3 kamar, 1 kamar pake AC)
Paket BAkar Ikan untuk 10 orang 200.000,-
Pilihan makanan, warung tegal, warung padang, harga 10-15.000/porsi
Ditulis dalam vacation
Kawanku ALE
Agung Suyadnya..alias Ale. Campuran Bali – Sunda yang bagi ku memiliki kepribadian unik dan menarik.
Aku kenal Ale dari seorang kawan di kantor. Kebetulan Ale juga karyawan baru di perusahaan tempatku bekerja. Hanya saja berbeda lokasi penugasan. Seru, asik dan open minded, itu kesan pertama yang aku dapat kan dari Ale. Selalu berpikir positif, yah…seperti tipikal pribadi sanguinis yang biasa kukenal.
Setelah kenal lebih jauh, ternyata sahabatku ini memiliki latar belakang keluarga yang cukup unik dan menarik. Ale dilahirkan di keluarga yang multikultur. Ayahnya berasal dari Tabanan Bali, sedangkan sang Ibu adalah Mojang dari bumi Priangan. Ale dilahirkan di Pontianak, besar di Balikpapan dan Bandung, kemudian pada saat SMU pindah ke Bali sampai saat ini. Sebagaimana adat di Bali, dimana anak laki-laki biasanya ikut Bapak karena merupakan penerus keturunan, sejak kecil Ale dan saudara kembarnya menganut Hindu seperti sang ayah. Sedangkan saudara perempuan Ale ikut Ibunya, yakni menjadi Muslimah. Bagi aku yang terlahir dari keluarga Minangkabau Islam, perbedaan keyakinan dalam satu keluarga ini agak sukar saya terima, tapi itulah yang terjadi. Dan buktinya keluarga Ale tetap bahagia sampai saat ini.
Ketika kuliah di Kota Kembang Bandung, Ale memutuskan untuk menjadi mu’alaf, memeluk Islam. Dan sang Ayah menerima keputusan Ale untuk pindah agama. Sedangkan sang Ibu ketika kembali ke Bali, akhirnya memutuskan untuk mengabdi kepada sang Suami dan mengikuti suami tercinta menjadi seorang Hindu. Hmm…unik bukan. Lagi-lagi, agama adalah urusan pribadi seseorang dengan Tuhannya, dan bagiku biarlah itu menjadi urusan makhluk dengan khaliknya.
Jadi, Ale sahabatku ini baru 3 tahun memeluk Islam. Masih banyak hal yang belum diketahui kecuali hal yang terlihat dari luar saja. Aku sering mendapat pertanyaan dari Ale tentang hal-hal yang baru tentang Islam. Suatu hari, Ale pernah menanyakan padaku, mengapa kebanyakan orang Islam tidak mau mengucapkan Selamat Natal atau Selamat Hari Raya Nyepi atau hari raya lainnya kepada umat lain??
Dengan segala keterbatasan aku mencoba menjawab, ” Dul (aku biasa manggil begitu, ADUL alias Ale gunDUL…xixixi), bagi umat Islam, tauhid adalah segalanya. Keesaan Tuhan adalah seuatu yang tidak terbantahkan dengan apapun. Yang paling penting kita menghargai ibadah agama lain, bukankah itu lebih berarti ketimbang ucapan selamat semata” Aku tak yakin jawaban ku memuaskan, tapi itulah Ale, sahabatku yang masih meraba-raba keIslaman di hatinya.
Bahkan, ketika kami akan melaksanakan sholat Ied, Ale baru ingat kalau dia belum membayarkan zakat fitrahnya…kontan saja aku segera menarik tangan sahabatku itu keluar shaff yang mulai rapat untuk mencari fakir miskin yang berhak menerima zakat. Karena zakat fitrah setelah holat Ied bukan lagi dihitung sebagai zakat fitrah akan tetapi hanya sedekah biasa, dan puasa Ale akan sia-sia selama satu bulan penuh ini. Itulah Ale…
Jelang Idul Fitri 1429 H, atau bertepatan dengan Bulan September 2008, aku menghabiskan waktu bersama Ale di Denpasar, karena kebetulan aku ga mudik ke Padang dan keluarga Ale (Ibu dan Bapaknya) akan merayakan lebaran bersama kakak tertua Ale di Lombok, sehingga Ale menawarkan agar aku nginap dirumah bersama saudara kembarnya.
Banyak hal baru yang aku dapatkan dari pria sanguinis populer ini. Ale suka berada ditengah keramaian, jadi pusat perhatian, dan selalu berusaha menyenangkan hati orang lain. Sehingga kadang-kadang niat baiknya menyenangkan hati orang lain kadang disalahartikan oleh orang lain, terutama kaum hawa (tenang kawan, hidup itu adalah pilihan, memilih dan dipilih adalah konsekuensi dari penciptaan manusia..). Tidak hanya dilingkungan kantor, dilingkungan rumahnya, ternyata Ale adalah idola ib-ibu dan bapak-bapak di kompleknya (Untuk yang satu ini aku acungi dua Jempol deh Le..).
Untuk Ale…keep smiling and spread your warm positive energy for everyone around you.
Ditulis dalam Inspiring People | Tag:Ale, Friendship
« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »







Kamis, 26 Maret 2009, adalah kunjungan kedua saya kepulau Sikuai. Pulau mungil nan cantik di pesisir ranah minang. Pulau yang menebar kecantikan dan pesona alamnya disegenap penjuru mata memang di pulau ini. Mungkin banyak tulisan dan decak kagum sudah dituai oleh setiap kunjungan ke sini. Namun tak sedikit pula kritik membangun digoreskan demi semakin indahnya Pulau Sikuai.





