Berburu Kopi Gayo di Takengon

Bagi penikmat kopi, nama Kopi Aceh Gayo tak asing lagi ditelinga. Bahkan Kopi Gayo adalah salah satu kopi terbaik di dunia. Para penikmat kopi bersedia merogoh kantong super dalam untuk mendapatkan secangkir kopi yang beraroma harum dan rasa yang khas tersebut. Tapi mungkin tak banyak yang tahu, dimanakah kopi mantap itu ditanam, dimanakah Gayo tersebut?

Kali ini saya beruntung sekali bisa menjejakkan kaki di tanah Gayo yang saat ini masuk kedalam Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Gayo sendiri adalah nama dataran tinggi Aceh yang tersebar di beberapa kabupaten, diantara Kabupaten AcehTengah, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Blajarengkeun. Kali ini saya mengunjungi kota Takengon, yang merupakan Ibu kota Kabupaten Aceh Tengah.

Disamping menuntaskan rasa penasaran saya akan danau Laut Tawar dan Masyarakat Gayo yang terkenal ramah dan bersahaja, perjalanan kali ini juga ingin melihat langsung seperti apa perkebunan kopi Gayo yang mendunia itu, dan tentu saja mencicipi kopi orisinal Gayo langsung dari sumbernya.

Menurut masyarakat lokal, ada dua jenis kopi yang ditanam di daerag Gayo, yaitu kopi Robusta dan kopi Arabica. Kopi Gayo yang asli adalah kopi Robusta dan jenis kopi inilah yang paling disukai oleh masyarakat local di dataran tinggi Gayo. Adapun kopi Arabica lebih banyak beredar di luar Gayo dan kopi inilah yang diekspor ke Eropa dan Amerika karena kopi ini lebih cocok dengan lidah mereka.

Pohon-pohon Kopi Robusta dan Arabika Gayo yang tumbuh subur di Takengon

Berbeda dengan daerah Jawa dan Bali, di Gayo, kopi ditanam secara manual dan tradisionaloleh penduduk setempat, dan kopi pun tumbuh subur bahkan disela-sela tanaman pagar tumah sekalipun. Sehingga tak aneh lagi ditengah kota Takengon atau di sela-sela rumah penduduk akan mudah dijumpai pohon kopi yang subur lengkap dengan buahnya yang mulai memerah. Untuk kopi jenis Arabika biasanya langsung diekspor ke luar negeri atau di jual kepengepul untuk dibawa ke Jakarta, namun untuk jenis kopi Robusta, biasanya di olah sendiri oleh penduduk lokal dan kemudian dipasarkan di pasar-pasar tradisional kota Takengon dan kota-kota lainnya di Dataran Tinggi Gayo dan Aceh.

Ada banyak cara untukmenikmati kopi Gayo di Takengon,. Banyak kedai kopi yang dikelola tradisional oleh masyarkat setempat dengan racikan yang pas. Racikan kopi masyarakat Gayo biasanya bercitarasa manis, disamping memang aroma dan rasa kopi Gayo memperkuat rasa manis. Kalau tidak terlalu suka kopi manis, cukup minta kepada abang penjual kopinya agar memisahkan kopi dan gula.

Disamping kedai-kedai kopi tradisional yang bertebaran di sekitar pusat kota Takengon, terdapat pilihan yang lebih nyaman dengan pilihan racikan kopi yang lebih beragam dengan kualoitas terjamin, yaitu di Kafe Bergendaal, sekitar 30 menit dari pusat kota Takengon. Tidak hanya koipi, disini juga bisa dilihat proses pengolahan kopi Gayo, dari biji kopi mentah, sampai terhidang indah di meja dengan harga jauh lebiyh murah. Secangkir kopi luwak Gayo yang di Jakarta bisa mencapai ratusan ribu, di sini bisa dinikmati hnaya dengan 20ribu rupiah saja.

Kesempatan bertandang ke tanah Gayo inilah yang saya manfaatkan untuk mencoba kopi Gayo asli di waung-warung kopidi sekitar kota Takengon. Hawa sejuk dan terkadang berkabut, pemandangan pergunungan dan hamparan danau Laut Tawar yang magis, ditemani secangkir kopi hitam khas Gayo serta aneka gorengan plus Nenas Madu Gayo, sungguh pengalaman yang tidak akanĀ  didapatkan kecuali di Kota Takengon, Dataran Tinggi Gayo, Provinsi Aceh.

Categories: Uncategorized | 11 Komentar

Post navigation

11 thoughts on “Berburu Kopi Gayo di Takengon

  1. kalau ada kesempatan main ke gayo lagi..
    saya akan dengan senang hati menemani bang..
    (kalo libur kuliah)
    hehe

  2. mantap

  3. memang kopi gayo nomor 1…..

  4. bang tolong kirim no hp atw hub saya 081361055685 sya mau tanya masalah kopi takengon, klw cocok sya beli ..//

    • botsosani

      Waduh, saya bukan penyalur kopi euy, coba aja ke Anomali Coffee, mereka biasanya jual macam2 kopi asli indonesia dalam bentuk biji. Saya waktu itu beli di pasar tradisional di Takengon, dalam bentuk bubuk dan jenisnya Robusta bukan arabika. Thx

  5. emang enak tenan kopine…………….thx yo ndan yogi

  6. Kopi gayo memang tiada duanya…

  7. Aiman

    gw rela koprol 100x smbil blang Wow…u/ gayo coffee..
    without coffee my days isn’t perfect

  8. Ping-balik: Menikmati Petualangan Daihatsu Terios dalam Secangkir Kopi « Ety Abdoel

  9. dikkt

    matap kopi… dan harganyaaa
    lebih mantap kalau yg luwak nya…. nikmat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. The Adventure Journal Theme.

%d bloggers like this: