Oleh: botsosani | Juni 30, 2009

Belitung Escapology (Part I)

Fly Me

Meski baru kemaren kembali ketanah air, siang ini aku sudah dalam perjalanan menuju sebuah pulau yang sempat terlupakan namun kini bangkit dengan eksotisme yang nasih perawan, Belitung.

Berawal dari keinginan untuk “kabur” dari rutinitas Jakarta yang padat dan penuh polusi, terutama polusi suara dan udara, aku dan sahabatku sepakat mencari lokasi baru yang tidak terlalu jauh dari Jakarta dimana kami bisa lepas dari segala bentuk polutan-polutan, seperti dering hp, suara radio dan televise. Kami hanya ingin melewatkan satu dua malam dengan suara ombak dan binatang malam. Akhirnya, pilihan itu jatuh ke Pulau Belitung.

Ternyata Belitung itu luas dan masih hijau. Dari udara terlihat beberapa bekas lobang penambangan timah bertebaran dimana-mana, terutama di Belitung Timur dan Selatan yang rusak parah akibat penambangan illegal. Penambangan tersebut tidak diikuti rehabilitasi lahan. Bekas tambang di biarkan menganga dan berbahya tentunya. Memang, pulau ini terkenal dengan kilauan timahnya yang bersinar ke seantero dunia.

Akhirnya kami mendarat di Lanud Hanandjoedin dengan selamat. Tak banyak yang bisa dilihat di Bandara kecil ini. Kesedehanaan bandaranya mewakili kondisi Belitung yang masih asri dan polos. Dari Bandara kami diantar salah kenalan yang masih saudara sepupu temen saya yang kebetulan orang Belitung juga. Kami menuju pusat kota Belitung. Eits…jangan bayangkan kota seperti di Jawa atau Sumatra, kota Tanjung Pandang, Ibukota Kabupaten Belitung mungkin kalah ramai dengan pusat kecamatan Pengalengan di Bandung. Jalanannya mulus, lurus dan sepi. Setelah melewati puat keramaiabn yang bernama Tanjung Pandan dan singgah sebentar di Pantai Tanjung Pendam, saya dan sabahat saya Yoggie, trus melaju kearah cottage kami di tajung kelayang.

Well…sebelum ke Tanjung Kelayang, saya mau ulas sedikit tentang tanjung pendam. Pantai ini sebenarnya sangat cantik. Pasirnya putih dengan pulau mungil didepannya. Di pulau ini juga terdapat klenteng yang menambah eksotisnya Pulau ini. Tapi…penataan pulau ini adalah salah satu bentuk “salah urus’ tata kotanya. Pantainya yang cantik kemudian di batasi dengan tanggul, sehingga disini tidak ada lagi pasir putih yang kemudianb berbaur dengan laut biru. Sayang sekali, akhirnya saya cuma minum es kelapa muda dan kemudian meneruskan perjalan ke tanjung kelayang.

Baru sepuluh menit meninggalkan Tanjung Pendam, hujam tiba-tiba turun membuat kami akhirnya harus berteduh. Pilihan mampir juga tidak tanggung-tanggung. Ijal mengajak kami mampir ke Museum Belitung. Saya exited sekali, kebetulan Museum adalah salah satu spot favorit saya. Namun..lagi-lagi sayangm sejarah Belitung yang sarat dengan timahnya tidak bisa segambar jelas disini. Saya tiba-tiba teringat kota Sawahlunto di pedalaman SUMBAR yang memiliki beberapa museum yang informatif dan bagus. Seperti Belitung harus belajar dari Sawahlunto, karena karakter daerahnya hampir sama, yakni sama-sama daerah bekas tambang.

Setelah hujan reda, kami meneruskan perjalanan menuju Tanjung Kelayang. Menurut Ijal, lokasi tanjung kelayang hanya 15 menit perjalanan. DI benakku, 15 adalah jarak yang cukup singkat di Jakarta. Tanpa ba bi bu, kami langsung bergerak menuju Kelayang. Ternyata 15 menit itu adalah perjalanan tanpa macet, melewati hutan dan padang savanna, dengan kecepatan rata-rata 70 kmjam.  Oalahh…jauh dan bikin pinggang saya pegel kesemutan.

Namun nuansa alami Belitung yang bersahaja member kesan tersendiri bagi kami. Judul trip kami ternyata tidak salah, Escapologi, kami betul-betul ‘escape’, get lost, deep into the breath of Belitung Island. Tidak ada sawah, tidak ada pertanian skala besar, atau apapun yang melibatkan campur tangan manusia, yang ada hanya desa-desa dengan rumah-rumah sederhana di antara deretan pohon kelapa dan pohon rumbia. Saya jadi ingat kampung ayah saya di Pariaman 15 tahun silam. Persis sama. Bedanya, di Pariaman sangat-sangat banyak sawah.

Kembali ke Belitung. Setelah melewati jalan yang aspalnya masih baru, akhirnya dari kerimbunan semak-semak, saya melihat pantulan gradasi biru muda dan diru pekat menyeruak menyapa dengan malu-malu. Pantai, Pasir, Ombak…rasanya tangan sudah gatal ingin meremas pasir pantai Belitung yang konon katanya pasir terbaik di Indonesoa, putih dan halus, salju tropis begitu salah seorang bule di www.lonelyplanet.com menyebutnya.

Akhirnya kami sampai di Kelayang Cottage. Cottage sederhana dengan bangunan kayu beratap seng dan rumbia berjejer rapi disela-sela rumput yang ditata. Tepat di depan halaman cottagete tersebut, terdapat sebuah restoran, mungkin lebih tepatnya tempat makan merangkap receptionist. Tak ada welcome drink atau bel boy yang akan mengangkat barang. Semua tidak diperlukan disini, karena pantai yang Subhanallah cantiknya sudah menunggu untuk di cumbui didepan mata…

DSCN4998DSCN5021DSCN5182


Tanggapan

  1. i wanna home bot, i really miss my island..
    great place for escape, right?

  2. Cool.. I’ll go there one day..
    Next destination Senggigi mbok..

  3. Poto2 na mana lagi..?? upload yg buanyak donk hehehe


Beri tanggapan

Your response:

Kategori