Escapology Lombok 3; Mencumbu Pantai sang Putri Mandalika

Mendung dan sedikit gerimis, seperti Januari ini memang bulan basah dan penuh air di Lombok. Tapi tidak menyurutkan langkah saya untuk memulai trip mencari pantai-pantai cantik dan legendaris di Lombok. Kali ini tujuan saya adalah pantai di Tenggara pulau Lombok. Jalur yang akan saya lewati adalah Mataram – Praya – Kruak – Kaliantan. Kalo menurut GPS sih, akan memakan waktu 1,5 jam. Tapi di daerah seperti Lombok , perkiraan waktu ala GPS tidak bisa 100 persen diercaya, ditambah saya hanya bawa motor dan musim hujan, otomatis akan nambah waktu untuk berteduh dikala hujan.
Rute pertama saya adalah menuju Bandara Internasioanl Lombok yang baru diresmikan bulan September 2011 lalu. Letak bandara ini di Kabupaten Lombok tengah, sekitar 1,5 jam dari Lombok tanpa macet dan ga pek acara berteduh karena kehujanan. Kebetulan sahabat saya yang selama dua hari menemani trip saya di Lombok harus kembali ke Bali untuk suatu urusan. Sempat ada drama dicegat polisi dan terpaksa ganti driver karena saya tidak punya SIM A. Sukurnya pak polisi pengetian dan mungkin kasian melihat ransel besar di punggung temen saya, akhirnya kami tidak ditilang hanya disuruh ganti driver.
Setelah melepas sahabat saya masuk ke bandara, saya segera melanjutkan perjalanan menuju cek point pertama, kota Praya, ibukota Lombok tengah.  Sepanjang jalan cukup banyak truk-truk yang membuat perjalanan menjadi terhalang. Namun berbekal pengalaman menembus macet dijakarta yang puluhan kali lipat di Lombok, saya bisa mencapai Praya dalam waktu yang relatif singkat.

Rute Mataram - BIL - Pantai Kaliantan

Bandara Internasional Lombok
Sebenarnya pantai yang terkenal di Lombok tengah adalah pantai Kuta dan Tanjung Aan Namun karena saya sudah pernah menyinggahi kedua pantai ini pada kunjungansaya yang pertama, maka kali ini saya mencoba menjajal pantai lain. Berbekal rekomendasi dari @infolombok, saya mencoba menjajal Pantai Kaliantan, Tanjung Ringgit dan Pantai Sorga. Entah dimana itu, tapi yang jlas kalo melihat peta Lombok di tangan, lokasi pantai-pantai ini seperti berdekatan.
Oh ya, pantai Kaliantan menyimpan cerita sendiri. Pantai ini merupakan pantai tempat lokasi upacara Nyale yang dilakukan masyarakat Sasak. Berawal dari legenda Putri Mandalika yang menjadi legenda dan cerita rakyat masyarakat Sasak Lombok.
Matahari seperti paham niat saya, sepanjang perjalanan saya selalu ditemani sinar matahari yang sangat langka di Lombok bulan Januari. Sesampai di Kruak, setelah pomp bensin saya belok kanan dan trus ke selatan. Tujuan pertama adalah Pantai Tanjung Ringgit. Berbekal nekad dan bensin motor yang saya isi full tank, saya melewati jalan berbatu yang seperti tiada ujung.  Pada awalnya, niat itu masih kuat, sampai akhirnya titik hujan menyudahi niat saya sehingga kemudian berbalik arah.
Akhirnya Tanjung Ringgit saya skipped dan beralih ke pantai Kaliantan. Jalanan menuju pantai ini terbiang bagus dan lancar, berbeda sekali dengan arah Tanjung Ringgit yang ancurr parah separahnya. Jalan aspal bagus tersebut berujung ke sebuah perkampungan nelayan kecil dan terpencil. Hanya beberapa puluh rumah sederhana di kampung tersebut. Setelah melewati kampung saya kembali menemukan dalan berlobang dimana aspal dan tanah sudah menyatu.
Namun perjalanan ini terbayar ketika melihat sebuah padang gembala terhampur luas dan telaga-telaga yang cukup luas di antara padang rumput yang ditumbuhi pohon kelapa. Burung-burung bangau dan Balam tampak akrab bergelut dengan puluhan kerbau dan kambing yang asik merumput di pinggir telaga. Dan semua semakin cantik karena di sebelah selatan terbentang pasir putih dan laut berwarna biru tosca dengan ombak yang lumayan bersahabat.  Dan semua itu sangat-sangat alami tanpa sentuhan artifisial, benar-benar hasil karya Allah SWT melalui alam ciptaanNya.

 
Disisi barat ada sebuah bukit kecil yang bisa didaki yang membagi pantai ini menjadi dua bagian. Tanpa pikir panjang, saya mendaki bukit kecil tersebut (lumayan sih, tingginya sekitar 70 meter). Dan terbentanglah pemadangan pantai Kaliantan yang eksotis dengan padang gembala dan telaga-telaganya yang indahh.
Lagi-lagi badai dan hujan menyudahi percumbuan saya dengan pantai indah ini. Laut yang tadinya tenang tampak makin membara. Jam sudah menunjukkan jam setengah 5 sore dan saatnya kembali ke Mataram.  Dalam perjalanan pulang saya coba mampir ke Pantai Sorga yang katanya merupakan lokasi surfing terbaik di Lombok. Namun niat ini urung mengingat jalan ke lokasi pantai adalah jalan tanah liat yang turun naik bukit, sementara hujan membuat tanahnya becek dan saya hanya membawa motor matic.
Yah, kembali hujan, angin dan badai menemani saya kembali ke mataram.  Tapi tetap rasa takjub dan bersyukur tak henti-hentinya saya tasbihkan kepada Allah SWT yang telah memberikan saya kesempatan melihat secuil sisi cantik pulau Lombok ini.

Sisi Barat Pantai Kaliantan

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Escapology Lombok 2; Jelajah Barat Daya Lombok

Alhamdulillah, mendung mulai bersahabat. Meskipun belum mengizinkan mathari menampakkan wujudnya, awan yang menyelimuti langit Pulau Lombok masih membiarkan hangat sinar matahari menyentuh Bumi Gora hari itu. Saya dan teman memutuskan memulai perjalanan mencari pantai-pantai tersembunyi di bagian ujung barat daya Lombok, tepatnya daerah Lembar – Sekotong dan sekitarnya.

Bagian selatan Lombok terdiri atas bukit-bukit kapur yang langsung bersentuhan dengan samudra hindia. Kontur geografis ini membuat daerah selatan terdiri atas teluk-teluk indah berpasir putih. Kadang tidak selalu berpasir putih, sesekali beberapa teluk dihiasi hutan bakau dengan vegetasi berlumpur.

Setelah makan nasi campur khas lombok di daerah Cakranegara, kami memacu scuter matic menuju ke arah selatan. Kali ini dilengkapi GPS dari smartphone canggih temen saya yang dilengapi petunjuk navigasi. Alhamdulillah, cuaca bersahabat, panas tidak hujan pun juga tidak, awan menaungi kami selama di perjalanan.

Rute Mataram Lembar Sekotong

Nasi Campur khas Lombok

Sebenarnya tidak terlalu susah mencari lokasi objek wisata di Lombok, kita cukup tahu kota atau daerah utama terdekat objek tersebut, tahu posisi keempat arah mata angin dan tinggal melihat papan penunjuk arah di setiap perempatan besar. Langkah terakhir apabila masih tersesat, gunakankan “the power of mouth” alias bertanya pada penduduk lokal, mereka pasti akan dengan senang hati memberi petunjuk arah.

Setelah 30 menit perjalanan dengan sepeda motor, sampailah kami di cek point pertama, pelabuhan Lembar. Pelabuhan ini berada disebuah teluk besar. Berada disisi dermaga serasa berada di pinggir danau karena hampir teluk ini seperti danau yang dikelilingi bukit. Tidak seramai pelabuhan di daerah jawa dan sumatera, namun beberapa peti kemas dan kapal barang masih mengingatkan kita bahwa kita berada di fasilitas publik terpenting di propinsi ini.

Pelabuhan Lembar dari Sisi Seberang

Setelah puas mengambil foto, kami mengelilingi teluk Lembar sambil sesekali berhenti mengambil foto dan menikmati pemandangan teluk-teluk cantik di barat daya lombok ini. Kami disuguhi pemandangan yang sangat indah disepanjang perjalanan menuju daerah Sekotong. Disisi utara terlihat jejeran perbukitan pulau Lombok, sesekali Gunung Rinjani mengintip disela-sela awan yang menyelimuti puncaknya.

Sementara disisi barat, jejaran Gili Nanggu, Gili Gede dan beberapa Gili (pulau) lainnya dengan hamparan pasir putih juga memukau mata. Dan, dari kejauhan terlihat siluet pulau Bali dan Gunung Agung yang menjulang tinggi. Sungguh sebuah sajian keindahan alam yang mustahil dapat kita nikmati di kota besar seperti Jakarta.

Dan sampailah kami di daerah Sekotong. Sekotong terkenal sebagai pusat pengembangbiakan mutiara di Lombok. Tapi kali ini saya tidak berminat melihat-lihat pembiakan mutira, saya lebih tertarik menikmati pantai2 berpasir putih, sepi dan bersahaja di sepanjang jalan di desa Sekotong. Desa-desa nelayan, pulau-pulau kecil dan besar, serta sapaan ramah penduduk lokal membuat kami betah berlama-lama menikmati sajian alam ini.

Selamat datang di Desa Sekotong Barat

Salah satu sisi Pantai di Sekotong

Sisi lain Sekotong

Peternakan Mutiara di teluk Sekotong

Fasilitas penginapan juga banyak tersedia disini, mulai dari yang sederana sampai villa-villa mewah yang menurut saya sedikit merusak keindahan alam Sekotong. Yah, mudah-mudahan nasib desa cantik ini tidak seperti desa-desa wisata di pulau tetangganya yang sudah habis tergerus kapitalisasi bisnis pariwisata.

Sayang hujan harus membuat kami menyudahi perjalanan ini dan kembali ke Mataram. Dalam perjalanan pulang ke Mataram, kami singgah di kota tua Ampenan, membeli durian khas lombok yang sedang musim. Dua buah durian berukuran sedang habis kami santap, maklum, seperti kebanyakan orang Minang, kami sangat maniak dengan durian.

Akhirnya sampai di penginapan dan saya siap untuk perjalanan sendiri esok hari karena sang kawan ini harus kembali ke Bali. Besok saya memutuskan untuk mengeksplorasi bagian tenggara Lombok, Pantai Kaliantan dan Tanjung Ringgit.

Sesi Narsis :)

Bersambung

Categories: vacation | Tags: , , , , , , , | 2 Komentar

Escapology Lombok 1; Membelah Belantara Lombok

Ini adalah kali kedua saya mengunjungi tetangga Bali ini, Lombok. Berbeda dengan kunjungan saya yang pertama dimana matahari bulan Juli sedang memancar dengan gagahnya, kali ini awan mendung begitu mendominasi langit pulau Lombok. Bulan Januari memang puncak musim hujan di bagian selatan khatulistiwa, khususnya Lombok. Tidak hanya hujan yang seakan tidak pernah letih mengguyur Bumi Gor ini, tapi angin barat juga ikut membawa badai dan gelombang laut yang membuat saya menyurutkan langkah menyebrang menuju Pulau Pesta, Gili trawangan. Akhirnya trip awal tahun 2012 ini saya tetapkan akan saya habiskan menjelajahi pulau Lombok.

Setelah sarapan nasi dengan lauk pauk khas Lombok yang lumayan pedas, bermodalkan sepeda motor matic keluaran Jepang (maaf, ga bisa nyebut merk) saya memulai perjalanan di hari pertama. Langit seakan bocor karena gerimis tak kunjung berhenti menyirami kota Mataram, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat. Berbekal GPS seadanya dari smartphone Kanada tipe terbawah, saya mengambil jalur Mataram – Bangsal via Pusuk.

rute Mataram - Pusuk - Bangsal - Senggigi - Mataram

Jalur Mataram – Bangsal via Pusuk ini agak kurang lazim karena jalannya yang kecil dan berbelok-belok. Sebenarnya agak nekat sih, karena rem belakang motor matic ini agak kurng pakem, ditambah hujan dan saya sama sekali tidak mengenal medan. Tapi teman saya yang sudah 3 bulan dinas di Lombok meyakinkan saya bahwa jalur itu aman dan bisa dilewati.

Jalurnya memang menanjak, walaupun tidak terlalu ekstrem tapi cukup mendebarkan karena jalanan kecil dan licin. Namun pemandangan hutan hujan tropis dikiri kanan jalan dan sesekali sungai berarus deras disela-sela bebatuan mengobati semuanya. Kabut dan halimun yang menyelimuti perbukitan Pusuk juga menjadi hiburan tersendiri. Pulau ini memang diberkati Tuhan dengan segala keindahan alam tropis yang memukau.

Sesekali saya melewati perkampungan penduduk dan beberapa pedagang durian yang sedang musim saat itu di Lombok. Hujan yang semakin lebat membuat saya harus berhenti sejenak disebuah saung kecil di pinggir jalan. Sampah kulit dan biji durian bertebaran dimana-mana, agaknya ini adalah gubuk tempat pedangan durian. Setelah berteduh dan merasa hujan tidak akan reda, saya nekad melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Bangsal.

Tidak sampai beberapa Kilo, saya sampai pada puncak pendakian, dimana setelah itu perjalanan akan turun sampai ke pantai utara pulau Lombok. Dari puncak terlihat Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Setelah menyeruput secangkir kopi, saya melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Bangsal. Jalanan menjadi lebih gampang karena menurun dan melewati sawah-sawah penduduk.

Panorama Puncak Bukit Pusuk

Suasa Pelabuhan Bangsal

Jadwal penyebrangan ke 3 Gili

Tidak sampai setengah jam sampailah saya di pelabuhan Bangsal.Pelabuhan Bangsal merupakan pelabuhan penyebrangan menuju 3 Gili. Suasana pelabuhan agak redup, karena mendung dan hujan sejak tiga hari terakhir. Hujan besar menyambut kedatangan saya, sukurnya gedung pelabuhan cukup lapang sehingga saya bisa duduk lesehan dilantai sambil men charge smartphone yang sudah low bat.

Sapaan sahabat yang baru saja menyebrang dari Gili Trawangan membangunkan saya. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar karena sudah hampir setahun lebih kami tidak bertemua, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Mataram melewati Senggigi dan Malimbu, dengan diiringi gerimis dan angin yang setia menemani.

Diperjalanan pulang kami sempat singgah di Bukit Malimbu, Pura Batu Bolong dan makan nasi goreng ala sasak di daerah Senggigi. Sesampai di kos-kosan teman di Mataram, kami segera merencanakan perjalanan besok harinya, yaitu menjelajah Barat Daya Lombok, Sekotong – Lembar dan sekitarnya.

Pura Batu Bolong

bersambung….

Categories: vacation | Tags: , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com. Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.