Oleh: botsosani | Juli 1, 2009

Belitung Escapology (Part II)

fly-me

Setelah meletakkan tas bawaan kami (yang akhirnya saya sadari banyak barang-barang yang mestinya tidak saya bawa), kami beristirahat sejenak di beranda cottage. Bagunan cottage ini sangat sederhana namun bersih, meskipun warna-warna yang digunakan untuk melapisi kayunya agak terkesan ‘ngejreng’, tapi mungkin untuk menonjolkan cottagenya.

Setelah minum kopi, kami segera memakaian dress code pantai yang sudah disiapkan, putih-putih. Kami menyusuri pantai didepan Cottage.

Aduhai, ternyata ucapan Rizka temen sekantorku, si Putri Belitung tidak salah. Pasir Pantainya bener-bener putih. Bukan keputih-putihan atau putih kekuning-kuningan, tapi..truelly white dengan tekstur yang halus seperti terigu. Saya begitu takjub melihat keindahan pasir pantai Kelayang ini dengan tak henti-henti berucap alhamdulllah. Terima kasih ya Allah, hamba telah di beri kesempatan melihat salah satu karya terindahmu.

DSCN5008DSCN5009DSCN5021DSCN5169

Sebenarnya trip ke Belitung kala itu nyaris tidak terdokumentasi karena ternyata saya lupa membawa memory card kamera. Alhasil, sore itu kami terpaksa menghapus beberapa foto narcis selama di pesawat dan di Tanjung Pendam. Syukurlah, Rudi, pengelola hotel bersedia membantu membelikan memory card tersebut karena kebetulan malam itu dia akan ke Tanjung Pandan.

Paginya, saya tidak melewatkan sunrise di sisi kanan pantai. Meskipun cuaca agak berawan, namun tidak menyurutkan niat kami untuk melihat matahari terbit. Namun cuaca ternyata lagi tidak bersahabat, akhirnya hujan turun dan kamipun kembali ke cottage dengan harapan hujan segera berakhir dan awan berganti matahari bersinar cerah.

Do’a kami terkabul, menjelang jam 11 siang, langit berangur cerah dan menampak warna biru terang. Lautpun mendadak tenang dengan gradasi biru muda yang menggoda. Dan akhirnya kamipun berangkat menuju Pulau Lengkuas, salah satu ikon Pulau Belitung dan menjadi daftar kunjungan wajib selama di Belitung.

Dalam perjalanan menuju Pulau Lengkuas, kami melewati beberpa pulau-pulau batu granit maupun pulau-pulau berpasir putih dengan jejeran pohon kelapa diatasnya. Mata tak berkedip dan mulut tak berhenti memuji keindahan alam ciptaan Tuhan ini. Ternyata saat itu lagi musim ubur-ubur, dari atas kapal, saya bisa melihat rombongan ubur-ubur tak putus-putus berenang kian kemari.

DSCN5034DSCN5045DSCN5046DSCN5063DSCN5079DSCN5069

Tak sampai satu jam, lamat-lamat terlihat sebuah menara mercu suar berdiri kokoh disebuah pohon berbatu. Semakin lama semakin jelas raut tua menara mercu suar di pulau lengkuas. Pulau cantik dengan pasir putih dan air laut yang landai dengan jejeran batu-batu granit besar beraneka bentuk dan ukuran di sekitarnya.

Ternyata menara ini sudah berumur lebih dari 120 tahun. Dari tanggal yang tertera di pintu masuk menara, tertulis tahun 1886. Setelah mendapat ijin, segera kami menapaki ratusan anak tangga menuju puncak menara. Menara tersebut terdiri atas 17 tingkat dengan tinggi sekitar 40 meter. Meski sudah berumur lebih dari seabad, tangga dan bangunan bajanya masih kuat, meskipun beberapa kaca jendela sudah pecah.

Panorama di puncak menara suar ini sangat-sangat indah. Dari sini terlihat sisi barat laut pulau Belitung dengan garis pantainya yang membentang sempurna dari timur ke barat. Beberapa rangkaian pulau kecil dengan batu-batu granit juga terlihat menghiasi lautan yang mengahru biru. Lokasi menari ini memang strategis karena berada tepat di mulut Luat Cina Selatan dan menjadi penanda masuk bagi kapal-kapal yang hendak melewati selat bangka menuju Jakarta dari Bandar Malaka dan Singapura. Tak heran, sejak dahulu Belitung jadi rebutan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, seperti Sriwijaya, Majapahit, Melaka dan Palembang.

Setelah puas berfoto dan melepas penat sembari menyegarkan mata, kami kemudian turun ke bawah. Pulau Lengkuas sebenarnya memiliki potensi besar menjadi salah satu objek wisata andala Belitung bahkan nusantara. Sayang, potensi ini dibiarkan tergerus jaman sehingga kian lama kian lapuk di makan zaman.

Sesampai di pantai, tanpa basa-basi, saya langusng buka baju dan menceburkan diri ke laut yang bening dan dangkal tersebut. Setelah dari kemaren tidak sempat berenang dan bersentuhan dengan air laut Belitung, kali ini saya tuntaskan semuanya. Laut dan pantai adalah hiburan yang paling indah yang tidak akan tergantikan dengan apapun didunia ini.

Puas berenang dan bercengkrama di pantai yang cantik ini, kami kembali beranjak menuju tanjuk Kelayang. Diperjalanan kami sempat melihat pelangi melintang indah di bumi Belitung. Tak salah memang kalau Andrea Hirata menulis Laskar Pelangi yang kemudian menjadi sebutan baru bagi Belitung, Bumi Laskar Pelangi.

Menjelang sore, kami menyusuri sisi barat tanjung kelayang yang ternyata masih asri karena jarang di singgahi manusia. Berbeda dengan sisi utara yang banyak berdiri warung-warung dan pondok-pondok istirahat, sisi barat belum di bangun apa-apa selain pohon kelapa dan padang rumput.

Kami berhenti di sebuah sudut berbatu perisi tepat di tengah-tengah teluk pantai tersebut. Disisi kiri terbentang pantai pasir putih yang melengkung indah sampai keselatan, sedang disebelah kanan, bertaburan batu-batu granit khas belitung diselingi pasir putih dan air laut yang mengisi sela-sela bebatuan tersebut.

Sambil berendam di laut yang hangat, sore ini kami menyaksikan matahari terbenam di ufuk barat. Sempurna, karena langit bersih dengan semburat awan tipis yang memantulkan rona jingga matahari sore, serta siluet pulau tepat di depan kami menambah indah sunset kala itu. Bisa dibilang, itu adalah salah satu sunset time terbaik yang pernah saya lihat.

Malam menjelang, kali ini kami sengaja keluar dari area cottage untuk mencari makan malam spesial, Grangan Kepala Kekarap. Atas rekomendasi Rizka, sang Putri Belitung, kami menembus pekatnya jalan di pojok belitung ke arah tanjung tinggi. Ada dua resto yang direkomendasikan, Cong Bu atau Rindu Pantai. Karena sudah kadung lapar, ahirnya kami nmampir di Cong Bu kaerna lebih gampang di capai dan nogon duluan. Kami memesan Grangan Kepala Kekarap dengan bumbu rempah. Ajib….enyak-enyak-enyaaakkkkk….!!!

Senin pagi, kami kembali ke Tanjung Pandan untuk kembali ke bandara. Hujan gerimis di pagi hari membuat kami membataslkan rencana kami untuk mengunjugi pantai tanjung tinggi yang juga menjadi ikon Belitung karena pernah menjadi lokasi syuting ”Laskar Pelangi”.

Dan pesawat Boeing 737-200 Batavia Air mengakhiri perjalan ’escapolgi’ saya dan sabahat saya, Yoggie di pulau Belitung. Pulau yang masih memendam sejuta pesona dan potensinya. Saya hanya berharap, beberapa tahun kedepan Belitung masih secantik dan selugu saat ini, penduduknya tetap murah senyum dengan bahasa melayunya yang mendayu merdu. Mudah-mudahn Pulau cantik ini tidak ikut tergerus oleh raksasa kapitalis bisnis pariwisata dunia. Sampai jumpa lagi Belitung.

Oleh: botsosani | Juni 30, 2009

Belitung Escapology (Part I)

Fly Me

Meski baru kemaren kembali ketanah air, siang ini aku sudah dalam perjalanan menuju sebuah pulau yang sempat terlupakan namun kini bangkit dengan eksotisme yang nasih perawan, Belitung.

Berawal dari keinginan untuk “kabur” dari rutinitas Jakarta yang padat dan penuh polusi, terutama polusi suara dan udara, aku dan sahabatku sepakat mencari lokasi baru yang tidak terlalu jauh dari Jakarta dimana kami bisa lepas dari segala bentuk polutan-polutan, seperti dering hp, suara radio dan televise. Kami hanya ingin melewatkan satu dua malam dengan suara ombak dan binatang malam. Akhirnya, pilihan itu jatuh ke Pulau Belitung.

Ternyata Belitung itu luas dan masih hijau. Dari udara terlihat beberapa bekas lobang penambangan timah bertebaran dimana-mana, terutama di Belitung Timur dan Selatan yang rusak parah akibat penambangan illegal. Penambangan tersebut tidak diikuti rehabilitasi lahan. Bekas tambang di biarkan menganga dan berbahya tentunya. Memang, pulau ini terkenal dengan kilauan timahnya yang bersinar ke seantero dunia.

Akhirnya kami mendarat di Lanud Hanandjoedin dengan selamat. Tak banyak yang bisa dilihat di Bandara kecil ini. Kesedehanaan bandaranya mewakili kondisi Belitung yang masih asri dan polos. Dari Bandara kami diantar salah kenalan yang masih saudara sepupu temen saya yang kebetulan orang Belitung juga. Kami menuju pusat kota Belitung. Eits…jangan bayangkan kota seperti di Jawa atau Sumatra, kota Tanjung Pandang, Ibukota Kabupaten Belitung mungkin kalah ramai dengan pusat kecamatan Pengalengan di Bandung. Jalanannya mulus, lurus dan sepi. Setelah melewati puat keramaiabn yang bernama Tanjung Pandan dan singgah sebentar di Pantai Tanjung Pendam, saya dan sabahat saya Yoggie, trus melaju kearah cottage kami di tajung kelayang.

Well…sebelum ke Tanjung Kelayang, saya mau ulas sedikit tentang tanjung pendam. Pantai ini sebenarnya sangat cantik. Pasirnya putih dengan pulau mungil didepannya. Di pulau ini juga terdapat klenteng yang menambah eksotisnya Pulau ini. Tapi…penataan pulau ini adalah salah satu bentuk “salah urus’ tata kotanya. Pantainya yang cantik kemudian di batasi dengan tanggul, sehingga disini tidak ada lagi pasir putih yang kemudianb berbaur dengan laut biru. Sayang sekali, akhirnya saya cuma minum es kelapa muda dan kemudian meneruskan perjalan ke tanjung kelayang.

Baru sepuluh menit meninggalkan Tanjung Pendam, hujam tiba-tiba turun membuat kami akhirnya harus berteduh. Pilihan mampir juga tidak tanggung-tanggung. Ijal mengajak kami mampir ke Museum Belitung. Saya exited sekali, kebetulan Museum adalah salah satu spot favorit saya. Namun..lagi-lagi sayangm sejarah Belitung yang sarat dengan timahnya tidak bisa segambar jelas disini. Saya tiba-tiba teringat kota Sawahlunto di pedalaman SUMBAR yang memiliki beberapa museum yang informatif dan bagus. Seperti Belitung harus belajar dari Sawahlunto, karena karakter daerahnya hampir sama, yakni sama-sama daerah bekas tambang.

Setelah hujan reda, kami meneruskan perjalanan menuju Tanjung Kelayang. Menurut Ijal, lokasi tanjung kelayang hanya 15 menit perjalanan. DI benakku, 15 adalah jarak yang cukup singkat di Jakarta. Tanpa ba bi bu, kami langsung bergerak menuju Kelayang. Ternyata 15 menit itu adalah perjalanan tanpa macet, melewati hutan dan padang savanna, dengan kecepatan rata-rata 70 kmjam.  Oalahh…jauh dan bikin pinggang saya pegel kesemutan.

Namun nuansa alami Belitung yang bersahaja member kesan tersendiri bagi kami. Judul trip kami ternyata tidak salah, Escapologi, kami betul-betul ‘escape’, get lost, deep into the breath of Belitung Island. Tidak ada sawah, tidak ada pertanian skala besar, atau apapun yang melibatkan campur tangan manusia, yang ada hanya desa-desa dengan rumah-rumah sederhana di antara deretan pohon kelapa dan pohon rumbia. Saya jadi ingat kampung ayah saya di Pariaman 15 tahun silam. Persis sama. Bedanya, di Pariaman sangat-sangat banyak sawah.

Kembali ke Belitung. Setelah melewati jalan yang aspalnya masih baru, akhirnya dari kerimbunan semak-semak, saya melihat pantulan gradasi biru muda dan diru pekat menyeruak menyapa dengan malu-malu. Pantai, Pasir, Ombak…rasanya tangan sudah gatal ingin meremas pasir pantai Belitung yang konon katanya pasir terbaik di Indonesoa, putih dan halus, salju tropis begitu salah seorang bule di www.lonelyplanet.com menyebutnya.

Akhirnya kami sampai di Kelayang Cottage. Cottage sederhana dengan bangunan kayu beratap seng dan rumbia berjejer rapi disela-sela rumput yang ditata. Tepat di depan halaman cottagete tersebut, terdapat sebuah restoran, mungkin lebih tepatnya tempat makan merangkap receptionist. Tak ada welcome drink atau bel boy yang akan mengangkat barang. Semua tidak diperlukan disini, karena pantai yang Subhanallah cantiknya sudah menunggu untuk di cumbui didepan mata…

DSCN4998DSCN5021DSCN5182

Oleh: botsosani | April 15, 2009

JELAJAH PALEMBANG…WHY NOT ???

Persiapan mendadak, uang cekak, langit badai pula…beuh!!! hamper saja perjalanan ku kali ini ke Palembang aku batalin. Setelah leyeh-leyeh agak lama di kosan, akhirnya aku memaksakan diri berangkat ke pool damri Blok M – Bandara.

Sepanjang perjalanan, aku berpikir..angin apa yang membuatku mau korban begitu besar ke Palembang… Kalo ke Bali, Padang atau Manado, masuk akallah. Tapi ini Palembang gitu loh…meskipun belum pernah ke Palembang, tapi di kepalaku bayangan tentang Palembang tak lebih dari sebuah kota berpenduduk padat, banyak mall (tipikal kota besar di Indonesia), dengan satu jembatan besar yang konon katanya jembatan terindah di Indonesia. Seberapalah cantiknya jembatan, jembatan Sydney aja bagiku biasa aja…

Tapi berhubung kali ini judulnya adalah menghadiri acara nikahan Sahabatku, akhirnya niat itu aku luruskan. Well, Palembang ..here I come

Palembang dari udara

Palembang dari udara

Dari atas pesawat, samar-samar kulihat sebuah hamparan kota berpenduduk padat yang dibelah sebuah sungai besar yang meliuk bagai ular raksasa berwarna kuning pekat. Hmm..melihat konturnya yang relatif datar, aku jadi teringat kota Pontianak. Persis, bedanya kota Palembang lebih ramai, dan sepertinya…lebih seruJ

Sesampai di Bandara, aku langsung menuju hotel yang dusah pesan temanku. Tadinya aku berharap hotel ini berada dekat jembatan Ampera. Tapi temenku memilih hotel di komplek Polisi, biar aman dan ga digrebek..(hehehe..emang mau ngapain pake digrebek segala pak..:)

Malam itu juga, aku berburu makanan ala Palembang yang sudah lama ingin kucoba. Martabak Har…berbeda dengan martabak telur di jakarta, atau martabak Kubang di Padang, martabak Har ini memang betul-betul isinya telur. Dimakan dengan kuah kari yang rasanya mirip kuah sate padang, Cuma tidak terlalu pedas. Hmm..unik juga. Paling tidak rasa penasaranku terjawab.

Malam itu, saya dan kawan menuju Jembatan Ampera yang masyhur itu. Ternyata jembatan Ampera itu lebih cantik dimalam hari dan juga lebih cantik kalau melihat aslinya. Kata temanku, dulu daerah ini daerah kriminal, jangan harap bisa duduk-duduk malam hari disini. Tapi sekarang, sejak pelaksanaan PON di Palembang, semuanya dibersihkan dan sudah jauh lebih aman.

Setelah puas foto-foto, aku diantar kembali menuju hotel. Istirahat untuk persiapan acara nikahan sahabatku besok. Acara nikahan sendiri juga unik, karena memadukan tiga kebudayaan, yaitu Minangkabau, Palembang dan Jawa (Solo). Kebetulan sahabatku berasal dari Tiku Pariaman, sedangkan calon istrinya campuran Solo-Palembang. Aku mengikuti prosesi adat suap-suapan dan icap-icapan ala Palembang, tapi pengantennya memakai pakaian Minang. Lucu yah…

Malamnya, saya berburu Pempek yang jadi kebanggaan kota Palembang. Meskipun hujan mengguyur, saya tetap menguber yang namanya Pempek. Temanku, namanya Izzy, mengajak ke Pempek Vico di depan Palembang Indah Mall (PIM). Kai pesan pempek campur dengan minuman es kacang merah campur (konon ini khasnya di Palembang..hehe, mirip es Kacang Merah di Manado, cuam di Palembang es serutnya lebih halus dan lebih ber susu). Pempeknya enak banget dan cukanya boleh diambil sesukanya. Berbeda kalo makanpempek di jakarta yang pelit cuka (kuah), kalau di Palembang kita boleh mengambil cukanya sesuka hati, seru kan!!!

Paginya, aku makan Mie Celor di Pasar 26 Ilir. Mie Celor itu berupa Mie kuning lurus yang disiram kuah santan gurih yang ditaburi seledri. Bentuknya mengundang selera, tapi begitu saya coba…kok biasa aja. Ternyata…rahasianya adalah ..Cuka. Aku terinspirasi dengan anak remaja tanggung yang menyiramkan cuka ke mie celor nya. Setelah Aku coba…hmmm, baru Ajibbbbbbb rasanya.

Malam minggu, aku puaskan hasrat motret di daerah Jembatan Ampera dan Bundaran Mesjid Agung. Sebenarnya aku agak kecewa dengan mesjid Agung, karena bangunan baru yang dibuat menutupi bangunan asli yang menurutku lebih eksotik dan unik. Bagusnya, bagunan mesjid yang asli masih dijaga dan tidak digabung dengan bangunan baru. Kalau mau melihat bangunan asli, kita harus lewat Belakang mesjid.

Minggu Sore, setelah beli dua kardus kecil Pempek, aku kembali ke Jakarta, menembus langit Palembang yang masih diguyur hujan. Masih ada beberapa objek ”must visit” yang aku kunjungi di Palembang, Pulau Kemarau, Bukit Siguntang, Museum Balaputra Dewa.

3275_72329753177_709948177_1754372_4026699_nampera23275_72334758177_709948177_1754447_7427248_n13275_72334783177_709948177_1754450_3916702_n

So, jalan-jalan Jelajahi Palembang…Why Not???

Plus:

- Kota Palembang termasuk rapi, jalannya bersih dan mulus

- Akses transportasi umum gampang, kecuali taksi

- Objek wisata di kotanya relatif dekat dan berada dilokasi yang sama

- Hampir semua fasilitas hiburan kota besar ada di Palembang, begitu juga dengan outlet franchise ternama hampir semua ada disini

Minus:

- Ciri khas kotanya kurang menonjol, tidak terlalu banyak sentuhan tradisional di sudut-sudut kotanya. Berbeda kalao kita ke Jogja, Padang dan Denpasar

- Dominasi bangunan adalah Ruko, hampir bisa dikatakan kalau kota Palembang adalah kota dengan Ruko sepanjang jalan.

- Plaza terbuka di dekat Benteng Kuto Besak kurang terpelihara kebersihannya, dan kurang terang pada malam hari, sehingga masih terkesan ”spooky”

Kamis pagi, sebelum berangkat ke Pulau Sikuai dan setelah sarapan mie rebus di hotel, kami segera jalan kaki ke Pusat kota, tepatnya di Ruang terbuka Hijau Imam Bonjol yang merupakan alun-alun kota Padang.

Disini kami menyewa bendi (setelah tawar-menawar akhirnya saya dapat si Bapak Kusir bersida mengantar kami keliling kota Tua Padang dengan Bendi cuma Rp. 30 rb..hehe). Ohya, Bendi adalah alat transportasi tradisional Minang, kalau di Jawa namanya Andong atau Dokar.

berikut rute “Babendi bendi di kota Padang” kami

Tujuan pertama adalah Mesjid Raya Gantiang, mesjid tertua di Kota PAdang. Perlu digaris bawahi, Kota Padang yang dimaksud adalah Kota Padang lama, bukan daerah Kotamadya Padang sekarang. Arsitekturnya unik, perpaduan gaya Belanda, Minang, Maroko dan China. Dari jauh, atap mesjid ini mirip pagoda china, berundak-undak dan dengan ujung lancip.

Setelah puas foto-foto didepan Pelataran Mesjid tua ini, Pak Zul, kusir bendi, segera membawa kami ke arah kampung pondok. KAlau Mesjid Raya Ganting berada di daerah mayoritas pribumi asal Minang, Kampung Pondok di huni oleh masyarakat keturunan Tiong Hoa yang sudah berbaur dengan masyarakat Padang. Bahasa keseharian, makanan dan kebiasaan pun sudah mengikuti kebiasaan masyarakat Minang pada umumnya. Disini kami disuguhi jejeran gedung-gedung tua yang masih di huni. Sebagian besar masih terawat, tapi ada beberapa yang sudah ditingalkan begitu saja dan hampir runtuh. Bahkan ada beberpa gedung dijadikan sarang burung walet. Lepas dari itu semua, koleksi bangunan tua di sini terbilang rapi, dan komplit.

Setelah Kampung Pondok kamu melewati beberapa daerah PAsar, Ada Pasar GAdang yang dulunya merupakan sentra bisnis terbesar di Pesisir Barat Sumatera, Pasar Tanah Kongsi yang 70% penjual dan pembelinya adalah keturunan Tiong Hoa, dan Pasar Batipuh. Kami juga melewati klenteng tertua di Pesisir Barat. Klenteng ini berdekatan dengan Gedung Pusat Kebudayaan TiongHoa Padang yang dikelola oleh Yayasan Himpunan Bersatu teguh dan juga merupakan pusat perayaan Imlek di Kota Padang. Kalau pas Imlek, kawasan ini akan merah meriah, hampir seluruh masyarkaat kawasan Muaro, baik dari Minang, Nias atau TiongHoa bahu membahu merayakannya.

Dari kawasan Klenteng, kami akhirnya bertemu dengan Pelabuhan Muaro yang pernah jadi primadona dan kawasan tersibuk di seantero Sumatera ketika sumbar masih masih jadi sentra Perkebunan, Emas dan Barubara. Kini, sisa-sisa kejayaan itu masih bisa terlihat dengan jejeran gedung-gedung bank, hotel dan gudang-gudang disekitar pelabuhan tersebut.

Disini juga menjadi saksi cinta abadi Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri, dua remaja asal kota Padang pada era 1920an. Kisah cinta mereka diangkat melegenda dan diangkat kedalam roman “Siti Nurbaya” oleh Marah Rusli kedalam Novel. Kisah cinta mereka kemudian diabadikan dengan dibangunnya Jembatan Siti Nurbaya yang menghubungan Kota Padang dengan Gunung Padang. Dari atas jembatan ini kita akan disuguhi nuansa romantis pelabuhan muara dengan latar belakang Pegunungan Bukit Barisan jauh dibelakang sana.

Setelah jembatan Siti Nurbaya, Pak Zul segera membawa kami ke Dermaga Wisata Bahari. Disinilah perjalanan Berbendi-bendi di Kota Padang harus di akhiri karena kami akan bertolak menuju pulau surga, Sikuai.

Hmm…Sekarang barulah saya paham, kenapa Orang Padang itu kalau berpantun merayu gadis impian mereka begitu ahli, alamnya yang indah dan romantis memang memberi inspirasi untuk merangkai kata-kata indah yang bisa membuat gadis manapun akan bertekuk lutut…Siti Nurbaya buktinya..heehehe

Ruko JADOEL

Ruko JADOEL

padang

Padang Sky View

Mesjid Raya Gantiang

Mesjid Raya Gantiang

 Mosque meet Pagoda

Mosque meet Pagoda

Used to be Bussy

Used to be Bussy

Pusat Budaya Tiong Hoa - Padang

Pusat Budaya Tiong Hoa - Padang

The Oldest Klenteng in West Coast

The Oldest Klenteng in West Coast

RTH Imam Bonjol

RTH Imam Bonjol

Amsterdam van Sumatra

Amsterdam van Sumatra

Oleh: botsosani | April 8, 2009

REUNI NARCIS di RANAH MINANG; First Bite..!!!

Setelah perencanaan yang super matang, dimana hampir 6 bulan lebih kami merencanakan perjalanan sekaligus reunian ini, akhirnya tanggal 26 Maret saya dan dua orang kawan akhirnya bertemu di pangkalan Damri Blok M. Masing-masing sudah siap dengan gayanya, ada yang bergaya ala backpacker dengan tas ransel besarnya, ada yang bergaya ala turis bule dengan baju ungu dan celana pendek plus sandel jepit plus kacamata jengkol, sedangkan saya, karena masih dari kantor, lebih mirip pejabat pemda mau perjalanan dinas, karena membawa tas travel sandang di samping.

Tepat jam 4 sore, pesawat Air Asia yang kami tumpangi lepas landas dari Soekarno Hatta menuju Negeri Indah di belahan pantai Barat Sumatera, Sumatera Barat, tepatnya Bandara Internasional Minangkabau. Namun salah seorang kawan karena teledor mengatur waktu, akhirnya ketinggalan pesawat dan harus siap-siap menangis darah mendengar cerita seru perjalanan kami di Ranah Minang.

Ketika mendekati kota Padang, kami tak melewatkan sedetikpun pemandangan indah kota Padang dari udara. Kedua sabahat saya tak henti-hentinya berdecak kagum dan berulang kali mengatakan..”ternyata Padang itu indah…pantai dimana-mana…sungai-sungainya keren…alamnya masih asri…” dan sebagainya. Yah, alhamdulillah, paling tidak…sebagai host acara reuni ini, saya berhasil memberikan “first bite” yang beteul-betul “Biting” alias menggigit…hehehehe

Sesampai di Padang, kami segera naik damri dari Bandara menuju pusat kota. Sebenarnya ini adalah pilihan yang salah, tadinya kami berharap masih bisa melihat sunset di pantai Padang yang cantik. Namun sopir Damri seperti tidak peduli, sehingga Damri yang seharusnya sudah berangkat masih ngetem dengan indah menunggu penumpang di poolnya. Go the hell with the sunset… ceu nah

Tapi, tuhan masih sayang dengan kami. Sesampai di pusat kota, kami masih sempat melihat garis horizon berwarna keemasan di pantai PAdang. Kedua temen saya yang baru pertama kali ke Padang begitu takjub dengan keindahan sunset disini. “Ga nyangka yah, sunset di pantai Padang Dahsyat Banget..!!!”

Setelah menyelesaikan urusan administrasi di hotel, kami segera ganti baju dan menyasar lokasi-lokasi tempat makan di sekitar kota Padang. Pertama kami menyasar martabak kubang yang yahuuuddd rasanya. Martabaknya wangi, empuk dan dagingnya berasa. Harganya juga bersahabat. Sebelum naik angkot, kami mencoba minuman penyegar khas ranah Minang, namanya Air Kacang Tujuh Helai (panjang kali namanya ya). Rasaya asem-asem manis dan menyegarkan. Karena ada campuran jeruk nipis, gula kelapa dan agar-agar dari daun Cincau. Setelah menegak air kacang 7 helai, kami meneruskan perjalanan menuju Simpang Kinol untuk berburu Es Duren Ganti Nan Lamo yang terkenal lazissssss.

Kami sengaja memilih angkot kota Padang yang keren-keren dengan desain interaktif. Siapa bilang di Padang ga ada diskotik, diskotiknya ratusan jumlahnya, murah meriah dan gampang dijangkau, yaitu ANKOT..hehe. Ga percaya..buktikan aja sendiri. Kami naik angkot Suzuki carry yang interior nya dimofikasi,lengkap dengan speaker, LVD TV, lampu biru dan mixer, gileeeee….

Es Gantinyo Nan Lamo emang ajib abisss. Duriannya enak dan legit rasanya. Setelah kenyang makan Durian, kami teruskan dengan jalan kaki menyusuri kota lama, melewati jalan gereja dan gedung-gedung Belanda. Meskipun malam hari, tapi nuansanya jauh darikesan menakutkan. Suasana kota tua di Padang masih tetap hidup dan bersih, berbeda dengan kota lama di Jakarta atau Semarang yang sedikit menakutkan dan banyak kriminalnya.

Sesampai di hotel, kami tidakmau melewatkan suasa pantai Padang yang lagi jinak-jinaknya. Angin semilir lembut di tambah suara hempasan ombak yang lebut di pasir dan batu pemecah ombak membuat kami betah berlama-lama duduk di sana. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kami harus beristirahat karena besok akan meneruskan perjalanan menuju Pulau Sikuai.

Malamnya kami semua larut dan bermimpi, terbuai oleh pesona Sikuai….(bsp)

Tulisan Sebelumnya »

Kategori